

Membicarakan tentang akhlak, tentunya akan membutuhkan waktu yang sangat lama agar semua makna dan arti yang terkandung dalam akhlak dapat terjelaskan dengan detail dan rinci . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walau pun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung” (QS.Al-Qalam : 4).
Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. salah satunya hadis yang berbunyi: “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.
Bertitik tolak dari pengertian bahasa ini, akhlak bisa dimaknai sebagai kelakuan manusia yang beraneka ragam. Keanekaragaman kelakuan ini antara lain, nilai kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk, serta dari objeknya, yakni kepada siapa kelakuan itu ditujukan.
Banyak ulama yang memberikan pengertian tentang akhlak. Diantaranya adalah :
1. Imam Ghazali dalam kitab ulumuddin, akhlaq adalah suatu gejala kejiwaan yang sudah mapan dan menetap dalam jiwa, yang dari padanya timbul dan terungkap perbuatan dengan mudah, tanpa mempergunakan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
2. Ibnu Maskawaih dalam kitab tahzibul akhlaq watathirul araq, mendifinisikan bahwa akhlaq itu sebagai sikap jiwa seserorang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran.
3. Prof. Ahmad Amin, mendifinisikan akhlaq adalah adatul iradah (kehendak yang dibiasakan) lalu menjadi kelaziman (kebiasaan).
Dari pengertian-pengertian tersebut tentunya semua orang dapat menyimpulkan bahwa seseorang yang berakhlak terpuji akan melakukan berbagai tindakan yang mencerminkan ketaatannya pada Allah dimanapun dan kapanpun dia berada tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya.
Akhlak
Banyak hal yang dapat kita kaitkan dengan permasalahan akhlak, bahkan semua perbuatan yang dilakukan manusia tidak akan pernah terlepas dari akhlak, baik akhlak terpuji maupun tercela.
Dalam kehidupan sehari-hari, akhlak diperlukan bukan hanya untuk bergaul dengan orang lain. Akhlak terhadap diri sendiri pun tidak dapat dianggap remeh. Jasmani yang diberikan Allah kepada manusia perlu dijaga dan diperlakuka sesuai dengan tuntunan yang ada.
Begitu pula dengan akal dan pikiran yang kita miliki. Kita tidak boleh menyia-nyiakan anugerah yang begitu besar ini, namun kita juga tidak boleh memaksa dan menyiksa semau kita. Cara memperlakukan akal yang baik adalah dengan menggunakannya sebagai sarana menuntut ilmu sebanyak-banyaknya.
Sudah sepantasnya sebagai seorang muslim, kita belajar sebaik-baiknya untuk mengembalikan kejayaan islam di masa yang lalu. Sebagaimana yang dikatakan oleh sejarah, sebenarnya ilmuwan muslim lenih dahulu dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan dibanding para ilmuwan barat. Hal ini tidak lain dikarenakan oleh kekuasaan Allah dalam menciptakan Al Qur'an yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari zaman dahulu sampai zaman yang akan datang.
Para ulama' generasi terdahulu pun telah mengisyaratkan pentingnya ilmu dalam karya2 mereka. Imam al-Bukhari memulai kitab al-jami' as-Shahih dengan Kitab Bad'il Wahyi ( awal mula turunnya wahyu ). Ini adalah pengakuan terhadap otoritas tertinggi wahyu sebagai sumber ilmu. Dapat dimaklumi pula, wahyu pertama adalah surah al-'alaq ayat 1-5, dimana di dalamnya Alloh berfirman " alladzi 'allama bil qalam, 'allamal insana malam ya'lam ". Hampir seluruh tafsir akan mencantumkan riwayat detail dan panjang tentang al-qalam (pena) dan peran sentralnya dalam peradaban. Bahwa, al-qalam adalah ramz al-'ilmi wa at-ta'lim ( simbol ilmu dan pengajaran). Ilmu adalah ruh Islam. Tanpanya, Islam akan mati.
Kitab al-'ilmi ditempatkan oleh Imam al-Bukhari sebagai bab ke-3, setelah Kitab Bad'il Wahyi Dan Kitab al-Iman. Bahkan didalamnya ada bab yg berjudul bab al-Ilmi qablal Qaul wal 'Amal (pasal tentang ilmu sebelum berbicara dan bnerbuat), yang merupakan pasal ke-10 dalam Kitab al-'Ilmi.
Imam al-Ghazali memulai kitab Ihya' 'Ulumiddin-nya dg bab al-'Ilm. Dengan kitab at-Targhib wa at-Tarhib, imam al-Mundziry menempatkan Kitabul 'Ilmi : at-Targhib fil 'Ilmi wa Thalabihi wa Ta'allumihi wa Ta'limihi wa ma Jaa'a fi Fadhlil 'Ulama' wal Muta'allimin (Bab tentang Ilmu : Motivasi tentang Ilmu, Mencari Ilmu, Mempelajari dan Mengajarkannya, serta Riwayat lain tentang Keutamaan Ulama' dan Pengajar), sebeum bab2 ibadah spt bersuci, sholat, zakat, puasa, haji, dan bahkan jihat fisabillilah. Kitab al-'Aqidah an-Nasafiyah yang berbicara tentang teologi, juga mengawali pembahasannya dengan menjelaskan konsep ilmu dalam pandangan Islam. Dengan demikian sangatlah jelas digambarkan bahwa menunut ilmu merupakan suatu akhlak mulia yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim.
Kemudian, akhlak terhadap jiwa kita juga sangat diperlukan agar tecipta pribadi yang utuh . Agar jiwa kita menjadi utuh, maka jiwa harus bersih untuk itu perlu adanya upaya penyucian jiwa. Beberapa hal yang dapat membersihkan jiwa antara lain :
Bertaubat
Hakikat taubat adalah: Menyesal, meninggalkan kemaksiatan tersebut dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Sahal bin Abdillah berkata: “Tanda-tanda orang yang bertaubat adalah: Dosanya telah menyibukkan dia dari makan dan minum-nya. Seperti kisah tiga sahabat yang tertinggal perang”.
Bermuqarabah
Maksudnya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Banyak hal yang dapat ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya adalah dengan memperbanyak sedekah kepada fakir miskin dan memperbanyak ibadah.
Bermuhasabah
Arti muhasabah ialah introspeksi atau mawas atau meneliti diri. Yakni menghitung-hitung perbuatan pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari bahkan setiap saat. Oleh karena itu muhasabah ini tidak harus dilakukan pada akhir tahun, akhir bulan. Namun perlu juga dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat. Satu hal yang perlu diingat adalah muhasabah tak akan ada artinya tanpa adanya tidak lanjut dari apa yang telah dievaluasinya.
Bermujahadah
Makna asal dari mujahadah adalah berjuang, bersungguh-sungguh, berperang melawan musuh. Namun secara spesifik mujahadah berarti Pengamalan Sholawat Wahidiyah atau sebagian dari padanya menurut adab, cara dan tuntunan yang diberikan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah, sebagai penghormatan kepada Rasulullah SAW dan sekaligus merupakan doa permoohonan kepada Allah SWT yang diperuntukkan diri pribadi dan keluarga baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, bagi bangsa dan negara serta pemimpin mereka di segala bidang dan umumnya bagi segalah makhluk ciptaan Allah SWT.
Memperbanyak ibadah
Memperbanyak ibadah baik mahdhah ataupun ghairu mahdhah tentunya akan membuat kita senantiasa lebih baik dari sebelumnya.
Menghadiri majelis Iman
Yang dimaksud majelis iman adalah majelis yang apabila kita menghadirinya akan menambah keimanan kita kepada Allah.
Ikhtitam
Begitu banyak ajaran dalam islam yang mengajak kita untuk senantiasa menjadi manusia yang mulia dan sempurna . Namun begitu masih banyak orang yang acuh dan melalaikannya. Untuk itu, sebagai generasi muslim yang baik, sudah sepantasnya kita memulai dari diri kita sendiri untuk dapat brakhlakul karimah baik pada Allah, diri sendiri maupun orang lain.
Selengkapnya...

Seluruh umat Islam diwajibkan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dari Anas bin Malik RA, Ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw: "Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap Muslim." Hadis ini jelas memberitahukan kepada kita begitu pedulinya agama Islam terhadap ilmu pengetahuan. Islam adalah agama yang bersandar pada ilmu pengetahuan, baik dunia maupun akhirat, karena agama Islam adalah agama yang bersandar pada ilmu pengetahuan dan amal yang sempurna. Selain itu, umat Islam juga sudah terkenal sejak zaman dahulu sebagai umat yang terkemuka di seluruh dunia dalam bidang pengetahuannya. Hal ini disebabkan akhlakul karimah yang selalu dipegang dan diamalkan. Dengannya seseorang menjadi sabar dan tekun dalam menggali berbagai ilmu pengetahuan, sehingga akhlak memiliki kaitan yang sangat erat dengan berbagai ilmu pengetahuan yang ada.
1. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa (Psikologi)
Ilmu jiwa (psikologi) adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental yang terjadi pada manusia. Dengan kata lain, ilmu in meneliti tentang peranan yang dimainkan dalam perilaku manusia. Psikologi meneliti tentang suara hati (dhamir), kemauan (iradah), daya ingat, hafalan, prasangka (waham), dan kecenderungan-kecenderungan (awathif) manusia. Itu semua menjadi lapangan kerja jiwa yang menggerakkan perilaku manusia. Dengan demikian, psikologi merupakan mukadimah pokok sebelum mengkaji tentang akhlak. Prof. Ahmad Luthfi berpendapat, “ ilmu akhlak tidak akan bisa dijabarkan dengan baik tanpa dibantu oleh ilmu jiwa (psikologi).” Itulah yang menyebabkan Imam Al Ghozali sebelum mengajar ilmu akhlak, beliau mengajarkan terlebih dahulu kepada muridnya mengenai ilmu jiwa, dan itulah mengapa Imam Al Ghazali menyusun kitab Ma’arijul qudsi fi madaariji ma’riftin nafsi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu jiwa dan ilmu akhlak bertemu karena pada dasarnya sasaran keduanya adalah manusia. Ilmu akhlak melihat dari apa yang sepatutnya dikerjakan manusia, sedangkan ilmu jiwa (psikologi) melihat tentang apa yang menyebabkan terjadinya suatu perilaku. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Sosiologi
Secara etimologi, sosiologi berasal dari kata “socious” yang berarti kawan, dan “logos”yang berarti ilmu. Jadi sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana manusia berkawan, atau dalam arti luas adalah ilmu pengetahuan yang berobjek pada kehidupan bermasyarakat.
Ahmad Amin mengemukakan bahwa antara ilmu akhlak dan ilmu sosiologi memiliki kaitan yang sangat erat. Ilmu akhlak mempelajari tentang perilaku (suluk), artinya perbuatan dan tindakan manusia yang ditimbulkan oleh kehendak, dimana tidak akan bisa lepas dari kajian kehidupan kemasyarakatan yang menjadi kajian sosiologi. manusia dalam hidupnya tidak akan mungkin bisa melepaskan diri dari kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab itu, dalam membahas akhlak yang membahastentang kehidupan individu, perlu menelusuri dan membahas kehidupan dalam bermasyarakat juga.
2. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Logika ( Manthiq)
Ilmu logika adalah ilmu pengetahuan yang menetapkan kaidah dan ketentuan dalam berpikir, sehingga manusia terpelihara dalam cara berpikirnya. Jelasnya, ilmu logika adalah untuk membersihkan jiwa dan memperhalusnya agar dapat berpikir baik, mendidik pikiran dan menjaganya dari kekeliruan dalam membuat hukum yang berdasarkan kepada pikiran.
Apabila dipandang sebagai penimbang, maka ilmu logika dan ilmu akhlak memiliki keterkaitan dalam dua segi;
- Ilmu logika dan ilmu akhlak, masing – masing bertugas sebagai penimbang sesuatu. Ilmu akhlak merumuskan aturan dimana manusia harus berperilaku sesuai aturan itu, sedangkan ilmu logika merumuskan aturan dimna manusia harus berpikir sesuai dengan aturan yang telah dirumuskan itu.
- Ilmu logika dan ilmu dan ilmu akhlak keduanya membahas dan meneliti kejiwaan manusia. Ilmu akhlak menyoroti perilakunya, sedangkan ilmu logika menyoroti segi hasil pikirannya.
Ilmu logika sebagai kunci memahami filsafat, dengan pengertian orang yang tidak memahami logika tidak akan mampu memahami fislsafat. Ilmu akhlak disebut juga filsafat akhlak, maka seseorang tidak akan mampu memahami filsafat akhlak tanpa memahami ilmu logika.
3. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Hukum
Pokok pembicaraan kedua hukum ini adalah perbuatan manusia, dan tujuan keduanya juga sama, yaitu mengatur perbuatan manusia untuk kebahagiaan mereka. Akan tetapi, cakupan ilmu akhlak lebih luas. Ilmu akhlak memerintahkan untuk melakukan apa yang bermanfaat dan meninggalkan apa yang mengandung mudharat, sedangkan ilmu hukum tidak. Ilmu hukum tidak memerintahkan apa yang baik untuk dilaksanakan, tidak juga melarang apa yang buruk untuk dilakukan.
4. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Agama
Ilmu agama adalah ilmu yang mengatur tata cara keimanan, peribadatan, kepada Allah SWT dan kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia kepada Allah, manusia kepada manusia, dan manusia kepada lingkungannya. Tujuan dari ilmu agama adalah untuk menjadikan manusia bahagia di dunia dan akhirat, sedangkan cara untuk bisa menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat salah satunya adalah dengan akhlak yang baik yang juga selalu diajarkan dalam ilmu agama.
5. Hubungan Antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Ekonomi
Istilah ekonomi dalam bahasa Inggris disebut economic, sedangkan ekonomi sendiri berasal dari bahasa Yunani, Oikos dan Nomos yang berarti peraturan rumah tangga. menurut Alfred Marshall, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kehidupan sehari-hari bertindak dalam proses produksi, konsumsi, alokasi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia, sumbernya yang terbatas adanya.
Yang berhubungan dengan ilmu akhlak adalah sistem ekonomi Islam. ekonomi Islam adalah prinsip ekonomi yang berdasarkan syari’at islam yang bertujuan menciptakan kehidupan individu yang sehat dan kuat, sebagai individu atau anggota masyarakat. Dengan akhlak, maka tidak akan terjadi kecurangan dalam proses ekonomi. Semua perilaku ekonomi yang dilakukan akan berlangsung lancar karena semua yang dilakukan didasarkan atas nilai-nilai moral dan budi pekerti yang mulia.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yatimin. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al Qur’an.Jakarta: Amzah.
Al Qardhawi, Yusuf. An Nasu Wal Haq. Kuwait.
Amin ,Ahmad. 1945. Al Akhlaq. Terj. Farid Ma’ruf. Kairo: Al Amiriyah.
Atkinson ,Rita L. dkk. Pengantar Psikologi. Batam: Interaksara.
Deliarnov. 1995. Pengantar Ekonomi Makro. Jakarta: UI Press.
Panji Masyarakat, Nomor 218, Maret 1977.
Pontjosoetirto, Soelardja. Asas – Asas Sosiologis. Yogyakarta: Gajah Mada.
Putong Iskandar. 2000, Pengantar Ekonomi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Rajab, Mansur Ali. 1961 . Taammulat fi Falsafatil akhlaq, Mesir
Rasjidi. 1990. Filsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang.
Tantawi , Syekh. 1984. Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern. Surabaya: Al Ikhlas.
Thaib, Ismail. 1984. Risalah Akhlak. Yogyakarta: CV. Bina Usaha.
Selengkapnya...

Faedah Akhlak
Akhlak merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Akhlak adalah mutiara hidup yang membedakan mahluk manusia dengan mahluk hewani. Manusia tanpa akhlak akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai mahluk Allah yang paling mulia dan meluncur turun ke martabat hewani. Manusia yang telah jauh dari martabat insaniyahnya bisa menjadi sangat berbahya dan lebih mengerikan dari bintang buas.
Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat At Tiin (95) ayat 4-6 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”
Dikatakan oleh Imam Ghozali dalam bukunya “Mukasyafatul Qulub”, bahwa Allah telah menciptakan mahluknya atas tiga kategori. Allah menciptakan malaikat dan diberikan kepadanya akal, tetapi tidak diberi (nafsu) syahwat. Allah menjadikan bintang yang tidak dilengkapi dengan akal, tetapi diberikan syahwat saja. Akan tetapi Allah menciptaka manusia di dunia ini dilengkapi dengan akal dan syahwat, sehingga apabila nafsu yang ada pada diri seseorang mampu mengalahkan akalnya, maka hewan melata menjadi lebih mulia dari manusia itu. Sebaliknya, apabila manusia dengan akalnya mampu mengalahkan nafsunya , maka derajat manusia tersebut menjadi lebih tinggi daripada malaikat yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah SWT.Kepribadian seseorang, terutama yang terkait dengan pola pemikiran dan akalnya tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya akhlak dalam dirinya. Akhlak dalam diri manusia yang akan menggerakkan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Akhlak menjadi satu kontrol utama dalam berperilaku.
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati posisi yang sangat penting, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaknya, apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah lahir dan batinnya, sedangkan apabila akhlaknya rusak, maka rusaklah lahir dan batinnya. Kejayaan seseorang juga terletak pada akhlaknya, yaitu pada akhlak yang baik, akhlak yang baik akan menjadikan seseorang menjadi aman, tenteram, dan tenang. Sebaliknya, seseorang yang memiliki akhlak buruk hidupnya akan kacau dan dipenuhi oleh kegelisahan karena biasanya seseorang yang berakhlak tercela akan dibenci dan dijauhi oleh masyarakat pada umumnya. Contoh nyata dari keterangan tersebut adalah Rasulullah SAW.
Sejarah tak akan mampu mengingkari betapa indahnya akhlak dan budi pekerti Rasulullah Muhammad SAW, hingga salah seorang istri beliau, Aisyah RA pernah berkata, “Kana khuluquhul qur’an.”, yang berarti bahwa Akhlak Rasulullah ialah Al Qur’an (HR Abu Dawud dan Muslim). Tidak ada satupun perkataan Rasulullah yang merupakan implementasi dari hawa nafsu beliau, semua yang Rasulullah sampaikan berasal dari wahyu Ilahi. Hal ini menjadikan beliau selalu tenang dan sabar dalam menyampaikan risalah Islam, walaupun banyak yang tidak senang dengan dakwah yang dilakukannya, akan tetapi berkat kemuliaan akhlaknya maka banyak orang yang menjadi simpatik dan dengan sukarela memeluk agama Islam.
Bagi setiap muslim, berhias dengan akhlak mulia adalah merupakan sebagian pertanda kesempurnaan imannya. Hal ini sesuai dengan hadis yang menjelaskan bahwa di antara kesempurnaan iman adalah kesempurnaan akhlak, hadis itu mengatakan ,“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi semua umat Islam untuk meneladani semua akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Faedah Mempelajari Ilmu Akhlak
Dilihat dari kacamata agama Islam,maka setiap ilmu pengetahuan yang bermanfaat wajib dipelajari dan dicari di manapun ilmu itu berada, dari mulut siapapun keluarnya. Dalam hubungannya dengan topik di atas, maka timbul satu pertanyaan apakah ilmu akhlak mampu menjadikan subjeknya menjadi orang yang baik dan terhormat? Sebenarnya, apabila dikaji lebih dalam, letak faedah dari ilmu akhlak tidak secara otomatis bila sudah mempelajari ilmu akhlak lalu orang itu menjadi baik, terpuji dan dihormati orang lain. Kedudukan ilmu akhlak lebih menyerupai hubungan antara dokter dengan pasiennya. Tugas dokter bukanlah untuk menyembuhkan pasien, akan tetapi tugas dokter adalah memberi obat dan menjelaskan dengan sesempurna mungkin mengenai penyakit dan gejala-gejala penyakit yang timbul apabila si pasien tidak berhenti merokok atau minum-minuman keras misalnya. Jadi semuanya sangat tergantung kepada pasien, apakah setelah mendapat keterangan dari dokter ia mau menuruti nasihat yang diberikan atau tidak. Jika dituruti, insyaallah dia ada harapan untuk terhindar dari penyakit atau penyakit yang sedang diderita itu berangsur-angsur hilang dan menjadi pulih kembali.
Demikian pula halnya dengan orang yang mempelajari ilmu akhlak. Dengan ilmu tersebut, dia menjadi mengerti dalam batas-batas tertentu mana yang baik dan mana yang buruk. Akan tetapi, sekadar mengetahui yang baik dan yang buruk saja tanpa orang itu mau melakukan apa yang telah diketahui itu, maka tidak akan mungkin terwujud kebaikan pada diri orang yang bersangkutan.
Apabila kita aplikasikan dalam kehidupan masa sekarang ini yang dikenal sebagai zaman modern, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan demikian pesat, sangat sulit untuk dapat menerapkan akhlak dalam setiap lini kehidupan. Realita yang ada menunjukkan pelanggaran susila terjadi dimana-mana, yang menjadi ironi adalah orang yag melakukannya justru sudah mengetahui bahaya yang akan didapatkan nantinya. Sebagai contoh perzinahan, perjudian, korupsi, dan kekerasan sudah dipahami oleh masyarakat sebagai sesuatu yang tidak baik, akan tetapi dalam kenyataanya perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu justru dilakukan oleh mereka yang ahli hukum, ahli ekonomi, ahli moral, bahkan oleh mereka yang mengerti dan memahami tentang aturan agama. Oleh karena itu sangat tepat apa yang diungkapkan oleh Al Ghozali yang maksudnya adalah sebagai berikut, “ ilmuwan itu ada tiga macam, ada kalanya ilmuwan itu membinasakan dirinya dengan orang lain, mereka adalah orang yang terang-terangan memburu dunia. Ada kalanya ilmuwan itu membahagiakan dirinya dan orang lain, itulah mereka yang selalu mengajak ke jalan Allah secara ikhlas. Ada kalanya ilmuwan itu membinasakan dirinya dan membahagiakan orang lain, itulah tipe mereka yang mengajak orang lain mementingkan urusan akhirat, tetapi dia berpura-pura menolak, padahal ia meninggalkan urusan akhirat dan lebih mementingkan urusan dunia.” Kemudian Al Ghazali berseru dengan nada sinis, “perhatikanlah diri anda termasuk ilmuwan yang mana?”
Disebutkan oleh Yusuf Al Qardhawi dalam bukunya “An Nasu Wal haq” dengan mengutip kata-kata hikmah dari orang arab pada masa silam, bahwa manusia terdiri darii 4 golongan, yaitu: pertama,orang yang mengerti dan mengerti bahwa dirinya mengerti, inilah dia ilmuwan, maka ikutilah orang itu. Kedua adalah orang yang mengerti, inilah orang yang tidur pada siang hari, maka bangunkanlah orang itu. Ketiga adalah orang yang tidak mengerti dan tahu bahwa ia tidak mengerti, inilah orang – orang yang mencari petunjuk, maka tunjukilah orang itu. Keempat adalah orang yang tidak mengerti, tetapi tidak menyadari kalau dirinya tidak mengerti, inilah kelompok orangyang sesat., maka tinggalkanlah orang itu.
Ahmad Amin dalam bukunya Al Akhlaq menyebutkan urgensi ilmu akhlak yang dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Ilmu akhlak dapat menyinari seseorang dalam memecahkan kesulitan-kesulitan rutin yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perilaku.
b. Dapat menjelaskan kepada seseorang tentang sebab atau illat untuk memilih perbuatan yang lebih baik ataupun lebih bermanfaat.
c. Dapat membendung dan mencegah kita secara kontinyu untuk tidak memaksakan diri pada semua keinginan-keinginan yang mengarah pada keinginan syahwat dan mengarahkannya pada hal yang lebih positif.
d. Seseorang menjadi lebih mengerti sebab-sebab ia melakukan suatu perbuatan sehingga ia akan lebih mampu memilih perbuatan yang nilai kebaikannya lebih besar.
e. Seseorang yang mempelajari ilmu akhlak akan lebih mampu memprediksi perilaku orang dan tidak akan menjadi pengekor sesuatu tanpa melalui pertimbangan yang matang terlebih dahulu.
Selengkapnya...
Siapakah orang yang sombong?
Orang yang sombong adalah orang yang di beri penghidupan tapi tidak mau sujud pada yang menjadikan kehidupan itu iaitu Allah Rabbul Alaamin, Tuhan sekelian alam. Maka bertasbihlah segala apa yang ada di bumi dan langit pada TuhanNya kecuali jin dan manusia yang sombong diri.
Siapakah orang yang telah mati hatinya?
Orang yang telah mati hatinya adalah orang yang diberi petunjuk melalui ayat-ayat Qur'an, Hadits dan cerita2 kebaikan namun merasa tidak ada apa2 kesan di dalam jiwa untuk bertaubat.
Siapakah orang dungu kepala otaknya?
Orang yang dunggu kepala otaknya adalah orang yang tidak mau lakukan ibadat tapi menyangka bahwa Tuhan tidak akan menyiksanya dengan kelalaiannya itu dan sering merasa tenang dengan kemaksiatannya.
Siapakah orang yang kuat?
Orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan kemarahannya ketika ia di dalam kemarahan.
Siapakah orang yang lemah?
Orang yang lemah adalah orang yang melihat akan kemaksiatan di depan matanya tidak sedikit pun ada kebencian di dalam hatinya akan kemungkaran itu.
Siapakah orang yang bakhil?
Orang yang bakhil lagi kedekut adalah orang yang berat lidahnya untuk membaca shalawat keatas junjungan Rasulullah s.a.w.
Siapakah orang yang buta?
Orang yang buta adalah orang yang tidak mau membaca dan meneliti akan kebesaran Al Qur'an dan tidak mau mengambil pelajaran daripadanya.
Siapakah orang yang tuli?
Orang yang tuli adalah orang yang di beri nasihat dan pengajaran yang baik namun tidak diindahkannya.
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil berat akan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.
Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabbi Aku ridho dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang menangis airmata mutiara?
Orang yang menangis airmata mutiara adalah orang-orang yang sedang bersendiri lalu mengingat akan kebesaran Tuhan dan menyesal akan dosa-dosanya lalu mengalir airmatanya.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak loba akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada sentiasa menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang pandai?
Orang yang pandai adalah orang yang bersiap siap untuk hari kematiannya karena dunia ini berusia pendek sedang akhirat kekal abadi
Siapakah orang yang bodoh?
Orang yang bodoh adalah orang yang beriya-iya berusaha sekuat tenaga untuk dunianya sedangkan akhiratnya diabaikan.
Siapakah orang yang maju dalam hidupnya?
Orang yang maju dalam hidupnya adalah orang-orang yang senantiasa mempertingkat ilmu agamanya.
Siapakah orang-orang yang mundur hidupnya?
Orang yang mundur dalam hidupnya adalah orang yang tidak memperdulikan akan halal dan haramnya akan sesuatu perkara itu.
Siapakah orang yang gila itu?
Orang yang gila itu adalah orang yang tidak sembahyang karena hanya dua syarat saja yang memperbolehkan akan seorang itu meninggalkan sembahyang, pertama sekiranya ia haid dan kedua ketika ia tidak siuman akalnya.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikkan.
Siapakah orang yang selalu ditipu?
Orang yang selalu di tipu adalah orang muda yang menyangka bahwa kematian itu berlaku hanya pada orang tua.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan saujana mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Selengkapnya...

1. Dianjurkan mengucapkan salam tiga kali jika khalayak banyak jumlahnya. Di dalam hadits Anas disebutkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan suatu kalimat, ia mengulanginya tiga kali. Dan apabila ia datang kepada suatu kaum, ia memberi salam kepada mereka tiga kali” (HR. Al-Bukhari).
2. Termasuk sunnah adalah orang mengendarai kendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan kaki, dan orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit kepada yang banyak, dan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yang muttafaq‘alaih.
3. Disunnatkan keras ketika memberi salam dan demikian pula menjawabnya, kecuali jika di sekitarnya ada orang-orang yang sedang tidur. Di dalam hadits Miqdad bin Al-Aswad disebutkan di antaranya: “dan kami pun memerah susu (binatang ternak) hingga setiap orang dapat bagian minum dari kami, dan kami sediakan bagian untuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam Miqdad berkata: Maka Nabi pun datang di malam hari dan memberikan salam yang tidak membangunkan orang yang sedang tidur, namun dapat didengar oleh orang yang bangun”.(HR. Muslim).4. Disunatkan memberikan salam di waktu masuk ke suatu majlis dan ketika akan meninggalkannya. Karena hadits menyebutkan: “Apabila salah seorang kamu sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam, dan tidaklah yang pertama lebih berhak daripada yang kedua. (HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Al-Albani).
5. Disunnatkan memberi salam di saat masuk ke suatu rumah sekalipun rumah itu kosong, karena Allah telah berfirman yang artinya: “Dan apabila kamu akan masuk ke suatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian” (An-Nur: 61) Dan karena ucapan Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma : “Apabila seseorang akan masuk ke suatu rumah yang tidak berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan : Assalamu `alaina wa `ala `ibadillahis shalihin” (HR. Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan disahihkan oleh Al-Albani).
6. Dimakruhkan memberi salam kepada orang yang sedang di WC (buang hajat), karena hadits Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma yang menyebutkan “Bahwasanya ada seseorang yang lewat sedangkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang buang air kecil, dan orang itu memberi salam. Maka Nabi tidak menjawabnya”. (HR. Muslim)
7. Disunnatkan memberi salam kepada anak-anak, karena hadits yang bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan: Bahwasanya ketika ia lewat di sekitar anak-anak ia memberi salam, dan ia mengatakan: “Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. (Muttafaq’alaih).
8. Tidak memulai memberikan salam kepada Ahlu Kitab, sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :” Janganlah kalian terlebih dahulu memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani…..” (HR. Muslim). Dan apabila mereka yang memberi salam maka kita jawab dengan mengucapkan “wa `alaikum” saja, karena sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila Ahlu Kitab memberi salam kepada kamu, maka jawablah: wa `alaikum”.(Muttafaq’alaih).
9. Disunnatkan memberi salam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang tidak kamu kenal. Di dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiallaahu ‘anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Islam yang manakah yang paling baik? Jawab Nabi: Engkau memberikan makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal”. (Muttafaq’alaih).
10. Disunnatkan menjawab salam orang yang menyampaikan salam lewat orang lain dan kepada yang dititipinya. Pada suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untukmu. Maka Nabi menjawab : “`alaika wa `ala aihis salam”
(Dikutip dari Judul Asli Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari)
Selengkapnya...

1. Hendaknya ikhlas di dalam memberikan nasihat, tidak mengharap apapun di balik nasihatmu selain keridhaan Allah Subhannahu wa Ta’ala dan terlepas dari kewajiban. Dan hendaknya nasihatmu bukan untuk tujuan riya` atau mendapat perhatian orang atau popularitas atau menjatuhkan orang yang diberi nasihat.
2. Hendaknya nasihat dengan cara yang baik dan tutur kata yang lembut dan mudah hingga dapat berpengaruh kepada orang yang dinasihati dan mau menerimanya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik dan debatlah ia dengan cara yang lebih baik”. (An-Nahl: 125).3. Hendaknya orang yang dinasihati itu di saat sendirian, karena yang demikian itu lebih mudah ia terima. Karena siapa saja yang menasihati saudaranya di tengah-tengah orang banyak maka berarti ia telah mencemarkannya, dan barangsiapa yang menasihatinya secara sembunyi maka ia telah menghiasinya. Imam Syafi`i –rahimahullah- berkata: “Berilah aku nasihat secara berduaan, dan jauhkan aku dari nasihatmu di tengah orang banyak; karena nasihat di tengah-tengah orang banyak itu mengandung makna celaan yang aku tidak suka mendengarnya”.
4. Hendaknya pemberi nasihat mengerti betul dengan apa yang ia nasihatkan, dan hendaknya ia berhati-hati dalam menukil pembicaraan agar tidak dipungkiri, dan hendaklah ia memerintah berdasarkan ilmu; karena yang demikian itu lebih mudah untuk diterima nasihatmu.
5. Hendaknya orang yang memberi nasihat memperhatikan kondisi orang yang akan dinasihatinya. Maka hendaknya tidak menasihatinya di saat ia sedang kalut, atau di saat ia sedang bersama rekan-rekannya atau kerabatnya. Dan hendaklah pemberi nasihat mengetahui perasaan, kedudukan, pekerjaan dan problem yang dihadapi orang yang akan dinasihati itu.
6. Hendaknya pemberi nasihat menjadi teladan bagi orang yang akan dinasihati, agar jangan tergolong orang yang bisa menyuruh orang lain berbuat kebaikan sedangkan ia lupa terhadap diri sendiri. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Syu`aib: “Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang” (Hud: 88).
7. Hendaknya pemberi nasihat sabar terhadap kemungkinan yang menimpanya. Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma`ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan sabarlah terhadap apa yang menimpamu”. (Luqman: 17). Luqman menyuruh anaknya untuk sabar terhadap kemungkinan yang terjadi karena ia memerintah orang lain mengerjakan kebaikan dan mencegah
(Dikutip dari Judul Asli Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari)
Selengkapnya...