Shalat Dalam Etos Kepemimpinan
02.18 | Author: alinaksi ahmad



Kenapa Anda tidak menjadi pemimpin? Untuk menjawabnya, seseorang perlu bertanya terlebih dulu pada diri sendiri,"Siapa yang menginginkan saya jadi pemimpin ? Apakah saya pantas menjadi pemimpin ? Jika saya punya kapasitas untuk memimpin, kenapa saya tidak menjadi pemimpin ?"


Begitu banyak upaya pencarian jati diri guna menemukan jawab serta pembuktian mengenai kapasitas seseorang. Sejatinya, siapa pun dia, pasti memiliki bakat serta kemampuan yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Hanya melalui kerja keras, tujuan yang jelas, kehendak, dan motivasilah yang dapat membuat hal tadi menjadi kenyataan.
Salah satu cara untuk mengetahui bakat tersembunyi adalah dengan melihat dan meresapi rahasia sukses seseorang, yang antara lain, berhasil mencapai level pemimpin baik di komunitas maupun lembaga yang mewadahi aktivitasnya. Beberapa penelitian menyatakan, sukses seorang pemimpin terwujud berkat kapasitas mereka untuk giat bekerja dan mencapai cita-cita. Kegigihan orang-orang ini amatlah istimewa begitu mereka telah menetapkan cita-cita dan tujuan.

Sehingga pernah muncul satu anekdot yang mengatakan perbedaan antara orang besar dan orang biasa adalah jika orang biasa akan berhenti jika merasa lelah serta mengantuk, sementara orang besar justru tidak akan menyerah. Terkadang dia bekerja keras dengan maksud untuk mengajak orang lain untuk bekerja bersama demi mencapai tujuan.


Hanya sedikit orang yang punya kemampuan semacam itu hingga kemudian menjelma sebagai pemimpin sejati. Elemen paling utama dalam hal ini adalah kerja keras dan menghargai waktu. Manusia sampai kini agaknya belum bisa menemukan pengganti dari kedua elemen tersebut. Hari ini, waktu tetap merupakan sesuatu yang amat penting bagi kehidupan manusia. Dan demi tujuan mewujudkan keinginan menjadi pemimpin maka mau tidak mau harus mengedepankan semangat kerja dan waktu tadi.

Islam telah mengakomodasi dua elemen menuju sukses itu dalam pelaksanaan shalat. Untuk tujuan ini, bisa disimak mulai dari penggilan shalat (adzan) sebanyak lima kali sehari. Satu contoh yakni efek psikologis dari adzan di waktu fajar untuk shalat Subuh adalah mengajarkan untuk bersegera mencapai ridha Allah SWT adalah lebih baik dari tidur.
Waktu dinilai sebagai elemen yang memberikan signifikansi terbesar pada kehidupan tiap-tiap Muslim. Perintah shalat lima waktu telah memberikan pelajaran mengenai pentingnya menghargai waktu. Aspek penting lain dalam shalat adalah bagaimana umat dapat mengatur waktu di tengah padatnya kegiatan. Pernah ada yang mengatakan, jika ingin kerjaan itu selesai tepat waktu, maka berikan kepada orang-orang sibuk. Seorang Muslim sebaiknya tetap menjaga dua hal ini yakni tidak meninggalkan semangat kerja namun harus bijaksana mengatur waktu. Dalam kaitan ini, sifat malas jelas tidak ada dalam kamus mereka.

Kemalasan, dalam banyak segi, kerap dituding sebagai musuh terbesar manusia. Nah shalat lima waktu, dengan kata lain, merupakan persiapan umat untuk menjadi lebih aktif baik secara fisik, mental, dan spiritual. Sekarang dua faktor bersatu dalam shalat dan tidur; pertama ialah seseorang dapat bekerja dengan waktu lebih panjang lantaran memilih tidur secukupnya, dan kedua, seseorang harus mampu menggunakan waktu sedemikian rupa sehingga efektif dan efisien. Umat Muslim punya kewajiban mengeliminasi penyakit malas, dan salah satu latihan terbaik adalah melalui shalat.
Maka jika seseorang sanggup bekerja keras, punya cita-cita, tujuan dan mampu membagi waktu, maka orang itu adalah pemimpin. Pemimpin merupakan seseorang yang punya arahan tertentu untuk memenuhi kebutuhannya. Dia mengambil tongkat kepemimpinan pelaksanaan tugas, mengatur rencana kerja dan mengevaluasi. Dia pun senantiasa mencurahkan perspektifnya dan terus berusaha sebelum tugas selesai.
Perlu diingat bahwa kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan, bukan sekedar posisi. Intinya yakni mengambil tindakan. Seseorang mesti menetapkan kebutuhan, tak peduli besar dan kecil, di masyarakat dan membuat rencana guna pengejewantahannya. Ingat, ada tiga kategori manusia di dunia ini. Manusia yang mampu mewujudkan, yang hanya melihat dan cuma berkhayal.

Agama Islam ialah pandangan hidup. Situs populer www.islamicity.com mengkatagorikan, di dalam ajarannya, terkandung huqooq-Allah, huqooq-un-nafs, dan huqooq-ul-ibad. Huqooq-Allah, yaitu seseorang yang bekerja demi Allah, percaya pada Yang Mahaesa, tidak menyekutukan-Nya, dan berbuat baik di muka bumi. Jika seseorang benar-benar mempraktekkan ajaran agama, maka akan bisa mencapai level B, jika tidak A, pada huqooq-Allah.
Pada kaitan huqooq-un-nafs, dikatakan seseorang yang memperhatikan dirinya, hanya mengkonsumsi makanan halal, tidak mencederai diri sendiri, dan sebagainya. Adapun huqooq ul ibad, perhatian yang diberikan lebih banyak untuk kemanusiaan, berbuat baik terhadap sesama, ringan tangan (suka membantu), dan lain-lain. Apabila seseorang merasa belum sanggup melaksanakan tiga unsur ini, agaknya perlu lebih giat lagi untuk meningkatkan kapasitas diri.
Kewajiban pada wilayah huqooq ul-ibad merupakan tanggung jawab seseorang pada masyarakatnya. Allah SWT berfirman dalam Alquran surat Al-Maidah (3):110 yang intinya manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang sempurna sehingga wajib menjunjung ajaran Alquran dengan mengedepankan perdamaian, keadilan, dan persamaan.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya. Hanya menunggu sang juru selamat hanya akan membuang-buang waktu. Tiap-tiap Muslim harus melaksanakan kewajiban seperti tertuang dalam Alquran dan hadis demi mencapai kehidupan sejahtera di dunia dan akherat.
Oleh karenanya, tiap-tiap Muslim juga harus mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin, dalam hal apapun. Karena sesungguhnya, masih-masing kita adalah pemimpin, setidaknya bagi diri kita sendiri. Jadilah pemimpin sejati dan segera ambil tindakan, demu kebaikan dan peningkatan kualitas hidup.
Selengkapnya...

Budaya Barat No, Budaya Islam Yes !!
01.00 | Author: alinaksi ahmad


Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al Baqarah 120)

Perkembangan teknologi di era modern ini berlangsung dengan begitu pesat. Banyak perubahan yang terjadi dalam setiap sendi kehidupan yang menuntut manusia untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Menurut Sidek (2009), perubahan memiliki dua pengertian; perubahan ke arah kebaikan dan perubahan ke arah keburukan. Apabila perubahan menjadikan manusia menjadi insan yang unggul dalam ilmu, iman, dan akhlak berarti perubahan itu mengarah pada kebaikan. Akan tetapi, apabila perubahan itu hanya merupakan tuntutan dari nafsu yang mengarah pada sifat sombong, angkuh, dan tamak, maka perubahan itu jelas menuju pada keburukan.

Melihat fenomena yang terjadi saat ini, perubahan zaman membawa dampak yang yang sangat bervariasi pada masyarakat. Bukan hanya pada sekelompok usia ataupun golongan, tetapi hampir merata pada semua lapisan masyarakat. Salah satu contoh nyata saat ini adalah maraknya penyebaran budaya-budaya barat yang sebenarnya bukan merupakan bagian dari kehidupan kita. Memang harus kita akui kalau bangsa barat memang unggul di beberapa bidang seperti teknologi dan informasi, tetapi bukan berarti kita harus menyerap semua budaya yang berasal dari mereka. Kita harus pandai-pandai memilah-milah mana yang bisa kita serap dan mana yang harus benar-benar kita jauhi.

Sebelum kita menyerap budaya orang lain, marilah kita mencoba mengenal budaya kita sendiri yang sebenarnya sudah sangat maju sejak berabad-abad yang lalu, budaya luhur yang telah diajarkan sejak zaman Rasulullah SAW. Akan tetapi masalah yang ada saat ini adalah ketika budaya yang baik dianggap kuno dan seakan-akan ada stigma dari masyarakat yang mengatakan kalau kita tidak mengikuti trend masa kini (yang biasanya diidentikkan dengan budaya barat) maka kita akan dicap sebagai orang yang kampungan dan tidak gaul. Masyaallah.
Sebagai umat Islam seharusnya kita mengenal budaya kita sendiri dan melestarikan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi apa yang terjadi saat ini? Budaya Islam yang seharusnya dilestarikan justru malah terkikis oleh berbagai budaya barat yang kian meprihatinkan. Beberapa contoh tentang kelunturan budaya Islam oleh budaya barat adalah ketika kita ditanya kapan hari valentine dilaksanakan? Tentu akan banyak orang yang dengan bangga menjawab tanggal kapan perayaan ini banyak dirayakan orang, terlebih apabila pertanyaan ini diajukan pada generasi muda. Mereka seakan merasa sangat bangga ketika mereka bisa menyebutkan tanggal itu apalagi apabila mereka bisa berpartisipasi dalam kegiatan yang sama sekali bukan bagian dari budaya Islam, justru malah budaya yang menjauhkan kita dari agama Islam.

Contoh lain, ketika kita ditanya kapan hari natal dilaksanakan? Maka akan dengan cepat orang menjawab tanggal kapan dilaksanakan natal itu. Berbeda halnya ketika kita yang mengaku generasi muslim ini ditanya, kapan hari raya Idul Fitri dilaksanakan? Kapan terjadinya peristiwa nuzulul qur’an? Atau kapan Nabi Muhammad SAW dilahirkan? Mungkin akan lebih sedikit umat Islam yang mampu menjawab pertanyaan itu jika dibandingkan dengan jumlah penjawab pertanyaan mengenai hari valentine dan sebagainya.

Ada lagi sesuatu yang menunjukkan bahwa kita sebagai umat Islam ternyata masih lebih banyak menganut budaya barat dibanding budaya kita sendiri. Ketika ditanya, apa rencana akhir tahunmu nanti? Tentu banyak orang akan mampu menjawab pertanyaan itu dengan begitu runtut dan jelas bahwa besok ketika akhir tahun saya akan melakukan ini dan itu, saya akan berlibur kesana dan kesini. Berbeda halnya ketika kita ditanya, besok akhir tahun Hijriyah (akhir bulan Zulhijjah) kamu punya rencana apa? Mungkin masih banyak orang yang akan menjawab jika mereka tidak punya agenda apapun. Bahkan sekadar agenda untuk bermuhasabah, menghitung hitung diri tentang apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan.

Ada lagi contoh tentang pergeseran budaya Islam, terutama di kalangan anak-anak, yaitu ketika ditanya tentang siapa itu sinchan? Siapa itu naruto? Maka akan dengan cepat anak-anak menjawab dengan sangat jelas dan rinci kalau tokoh-tokoh itu merupakan idola mereka. Tetapi ketika ditanya siapa itu Hasan? Siapa itu Husain? Maka akan kebingungan mereka menjawabnya, padahal Hasan Husain merupakan keturunan Rasululah SAW yang lebih layak untuk kita ketahui dibandingkan tokoh-tokoh idola anak saat ini.

Dikala orang nasrani dengan bangga menenteng kitabnya menuju ke gereja, ternyata umat Islam masih malu untuk membawa kitab sucinya ke masjid. Seharusnya kita malu dengan budaya yang sebenarnya sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW pada kita, ternyata sekarang justru diterapkan oleh bangsa barat, dan ironisnya budaya yang sekarang sudah mulai bangsa barat tinggalkan, kita serap menjadi budaya yang kita lestarikan dalam keseharian kita.
Bangsa barat yang merupakan basis orang Yahudi dan Nasrani tentu memiliki misi khusus ketika menciptakan berbagai budaya yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka ingin agar mereka bisa benar-benar masuk dalam kehidupan umat Islam. Mereka tidak akan pernah rela sampai umat Islam masuk dalam ajaran mereka. Bagi mereka, umat Islam yang merupakan jumlah terbesar penganut agama di dunia merupakan sasaran empuk bagi perluasan gerakan mereka. Bagi umat Islam yang masih hidup dalam keadaan perekonomian yang belum mapan, maka sembako dan semua kebutuhan hidup merupakan senjata utama untuk menarik umat Islam menjadi bagian dari mereka. Akan tetapi, untuk umat Islam yang sudah tercukupi kebutuhan ekonominya maka perubahan pola pikir dan budayalah senjatanya.

Kaum Yahudi dan Nasrani akan dengan gencar memasukkan muatan-muatan dari budaya mereka dalam kehidupan umat Islam. Mereka ingin umat Islam semakin jauh dari ajaran agama nabi Muhammad SAW, sehingga otomatis umat Islam akan jauh dari tuhannya. Ketika umat Islam jauh dari ajaran agamanya, maka berjayalah musuh-musuh Allah di muka bumi ini, na’udzubillah..

Ikhtitam

Dengan banyaknya contoh yang telah disebutkan di atas, seharusnya kita bisa lebih sadar bahwa kita sebagai umat Islam punya budaya, dan budaya itu harus kita lestarikan, bukan malah kita berpaling pada budaya barat yang sebenarnya dirancang oleh mereka untuk menghancurkan generasi Islam. Banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari menerapkan kebiasaan-kebiasaan dan akhlak Islam dari hal-hal yang kecil, diawali dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita. Semoga kita bisa lebih sadar, mawas diri, dan semakin lantang berkata

“Saya bangga sebagai seorang muslim..”
Wallahu a’lam bis shawab
Selengkapnya...

Kedudukan Wanita dalam Islam
00.46 | Author: alinaksi ahmad




Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun (QS, Al-Ahqaf 15)

Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan perhatian khusus terkait masalah orangtua. Orangtua memiliki kedudukan yang sangat penting, sehingga Allah SWT menyebutkan begitu banyak ayat dalam al Quran yang membahas tentang orangtua. Salah satu ayat adalah tentang perintah untuk selalu berbakti kepada orangtua, yaitu dalam Q.S. 17:23-24, yang artinya,
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah!" - Jangan pula engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku! Sayangilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku semenjak kecil."

Dalam membahas tentang peran orangtua, Islam memberikan “tempat khusus” bagi sosok wanita. Wanita dalam Islam memiliki keistimewaan tersendiri yang membuat dirinya begitu mulia. Apabila kita perhatikan, maka setidaknya akan ada 3 peran yang penting wanita dalam keluarga. Peran yang pertama adalah untuk suami, yang kedua untuk anak, dan yang ketiga adalah untuk lingkungan.

Peran wanita sebagai istri

Sosok ayah sebagai kepala rumah tangga dalam keluarga memiliki begitu banyak nilai strategis yang mampu menghantarkan keluarga menjadi sebuah keluarga yang luar biasa. Akan tetapi, kita tidak boleh lupa begitu saja bahwa dari “kehebatan” seorang ayah ternyata ada satu sosok bernama istri. Istri memberikan suatu dorongan tersendiri agar suaminya mampu menjalani hidup dengan lebih tenang dan nyaman. Dalam al Quran surat Ar-Rum: 21, Allah menjelaskan peran istri bagi suaminya, yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan pengertian firman Allah:“mawaddah wa rahmah” bahwa mawaddah adalah rasa cinta, dan rahmah adalah rasa kasih sayang. Cinta dan kasih sayang itulah yang justru mampu mendorong suami untuk bisa menjadi seorang kepala keluarga yang baik. Sungguh, kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, isteri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di goa Hira’. Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Imanno. 160)

Peran wanita sebagai ibu

Peran wanita yang tidak akan mungkin tergantikan bagi siapapun adalah ketika ia menjadi sosok ibu. Sembilan bulan ibu mengandung anaknya dalam keadaan lemah dan tersiksa, namun ia menjalaninya dengan perasaan sabar dan ikhlas. Bagi ibu kesabarannya pada saat itu merupakan kasih sayang untuk anaknya, kegelisahannya pada saat itu semata-mata hanya mengkhawatirkan bayi yang dikandungnya, dan kepenatan ibu pada saat itu adalah demi kesehatan bayinya, serta tiada yang dilakukan ibu pada saat mengandung kecuali untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.

Perjuangan ibu dilanjutkan dengan waktu dimana kita dilahirkan ke dunia. Saat itu adalah saat yang sangat mendebarkan dan menegangkan bagi semua orang yang mengharapkan kehadiran kita, terutama ibu. ibu merasakan rasa sakit yang tidak pernah dirasakan sebelumnya dan perasaan khawatir yang sangat besar akan keselamatan kita, hingga seolah-olah terdapat dua pilihan yang nampak di depan matanya yaitu mati ataukah hidup. Dan aku yakin, engkau pasti mengetahui apa yang dipilih oleh ibumu, dengan menahan rasa sakit saat melahirkanmu, di dalam hati, ibumu seraya berdoa, “ Yaa Allah Rabku, permudahlah kelahiran anakku, apabila saat ini adalah kematianku maka matikanlah aku, namun biarkanlah anakku hidup sehingga dia dapat merasakan dunia serta isinya yang telah engkau ciptakan untuknya.”.

Ikhtitam

Semua yang telah disampaikan merupakan sebagian kecil gambaran begitu mulianya peran wanita dalam Islam. Untuk itu, tidak ada alasan bagi kita sebagai umat nabi Muhammad SAW untuk tidak menghargai wanita, termasuk bagi para wanita sendiri. Hargailah mereka dengan menjadikan mereka ibu terbaik yang selalu kita nantikan doa dan keihklasannya, sebagai istri yang selalu sabar berjuang bersama mengarungi lautan kehidupan, dan sebagai penghias terbaik di dunia ini dengan menjadi wanita sholehah untuk diri, untuk keluarga, untuk agama, dan semua untuk mengaharap ridho Allah SWT.

Wallahu a’lam bisshawab..
Selengkapnya...


“.. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.
(QS. Al Baqarah 216)

Seperti judul tulisan yang tertera di atas, mengapa aku tak mendapatkan apa yang aku inginkan? Maka seperti itulah gambaran pertanyaan kebanyakan orang dalam menjalani hidupnya saat ini. Tidak heran apabila saat ini banyak orang yang merasa selalu kekurangan dalam hidupnya, merasa hidup sendiri dan tak ada yang menemani. Mereka merasa apapun yang telah mereka terima tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Jika pikiran semacam itu merasuk untuk menjadi bahan pemikiran dan kemudian bisa melecutkan diri menjadi lebih baik, tentu pikiran-pikiran itu menjadi bermanfaat, akan tetapi apabila pikiran-pikiran semacam itu manjadi sebuah penyesalan, kemarahan, bahkan keputusasaan, maka sudah barang tentu semua itu hanya akan menjadi penyakit dalam diri kita.

Belum menjadi seorang muslim sejati apabila dalam pribadinya tumbuh bibit penyakit hati. Penyakit hati bisa tumbuh dari berbagai macam bibit, salah satu bibit yang berbahaya adalah perasaan kurang yakin dan berburuk sangka kepada Allah Swt. Dengan penyakit ini, manusia akan selalu merasa bahwa Allah Swt. tidak pernah sayang kepadanya. Allah Swt.tidak mau memberi hamba-Nya nikmat dan Allah Swt. itu jahat. Ketika penyakit ini merasuk dalam diri seseorang, maka nafsu jahat dalam diri manusia sedang berpesta pora menyambut kedatangan teman baru mereka, dan ia adalah keserakahan.

Sifat serakah seringkali menjalar dalam diri tanpa bisa dideteksi dengan alat apapun selain kesucian hati. Dengan sifat serakah manusia akan tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Memang boleh apabila kita merasa tidak puas dengan apa yang kita dapatkan, terutama dalam hal ilmu dan ibadah, tetapi tidak pada nikmat Allah Swt. kita tidak boleh menghujat Allah Swt. dengan mengatakan bahwa Allah Swt. tidak pernah memberi apa yang kita inginkan, karena dengan begitu kita sebenarnya telah digiring nafsu jahat dalam diri untuk menjadi seseorang yang kufur nikmat, naudzubillah.

Sebenarnya, apabila kita mampu mengkaji lebih dalam tentang semua yang diberikan Allah Swt., maka kita akan bisa merasakan betapa rahman dan rahim Allah Swt. yang begitu melimpah. Allah Swt. selalu memberi apa yang terbaik di hadapan Allah bagi makhluk-Nya. Kebanyakan manusia selalu menilik apa yang diberikan Allah Swt. dengan kacamata nafsu mereka, bukan dari hikmah yang ada dibaliknya. Dengan jelas Allah telah menjelaskan dalam surat al Baqarah ayat 216 bahwa Allah Swt. selalu memberi yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, karena hanya Allah Swt. lah yang paling mengerti tentang apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bisa jadi kita membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kita, dan bisa jadi ketika kita menyukai sesuatu, padahal ternyata ia amat buruk bagi kita.

Sebuah analogi sederhana, adalah cerita tentang seorang anak bernama Ahmad dan ibunya yang sedang menyulam kain. Sang ibu duduk di atas kursi dan Ahmad duduk di lantai samping kursi ibunya. Ketika sang ibu menyulam, Ahmad bertanya, “ibu, kenapa ibu membuat untaian benang yang begitu rumit dan tidak teratur seperti itu?” sang ibu hanya tersenyum dan terus meyelesaikan sulamannya itu. Tak berapa lama hasil sulamannya pun jadi. Ibu mengangkat dan mendudukkan Ahmad ke pangkuannya. Kemudian sang ibu berkata, “apa yang kamu lihat sekarang Ahmad? ”, dan Ahmad menjawab, “wow, indah sekali sulaman ini bu”. Ahmad takjub ketika melihat pola dari atas yang begitu rapi membentuk gambar bunga, berbeda dengan apa yang ia lihat dari bawah, rumit dan tidak beraturan. Kemudian sang ibu menjelaskan kepada anaknya bahwa apa yang ia lihat adalah perumpamaan hidup kita. Jalan hidup seringkali terasa begitu rumit dan buruk bagi kita, tapi belum tentu di mata Allah Swt. Bisa jadi apa yang kita pandang sebagai sesuatu yang berat dan menyusahkan, ternyata begitu indah di hadapan Allah Swt.

Dari cerita tersebut kita seharusnya bisa lebih memahami bahwa Allah Swt. selalu lebih mengerti apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Semua yang kita terima, entah itu nikmat ataupun musibah hanya merupakan ujian dari Allah Swt. Dalam al Quran surat Al Ankabut ayat 2 Allah Swt. menyampaikan firman yang artinya,”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”. Jadi, kita tidak perlu risau akan semua ujian itu. Hal yang perlu kita lakukan adalah melakukan apapun dengan sebaik-baiknya. Semua ujian yang diberikan Allah Swt. tidak lain adalah untuk mengetahui siapa yang benar-benar beriman kepada Allah Swt. Dalam lanjutan surat Al Ankabut ayat 3, Allah telah menjelaskan, “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Allah memang tidak akan selalu memberi apa yang kita inginkan, tetapi yakinlah bahwa Allah pasti akan memberi apapun yang kita butuhkan.
Mungkin bertahun tahun sudah aku menengadahkan tangan, tekun berdoa dan berusaha untuk keberhasilan dan kebahagiaan.
Sering aku mengeluh karena banyak harapan yang tidak bisa tercapai.
Namun kini aku harus sadar, ada kalanya niatanku alisasi dan keinginanku tak kudapati, dan aku yakin Allah akan menggantikan dengan yang lain, yang lebih baik.
Aku yakin keberhasilan dan kebahagiaan itu akan menghampiri walaupun mungkin dalam bentuk dan waktu yang lain. Insyaallah...

Wallahu a’lam bisshawab
Selengkapnya...

Dampak Negatif Televisi bagi Pendidikan Anak
21.06 | Author: alinaksi ahmad


Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini. Kecuali Metro TV, hampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya.Kegelisahan itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak.
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, misalnya, mencatat, rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7 sampai 8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur (Pikiran Rakyat, 29 April 2004).


Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi.Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi perkembangan anak-anak.Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi baik, misalnya program Acara Pendidikan. Banyak informasi yang bisa diserap dari televisi, yang tidak didapat dari tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga tayangan televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan televisi di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang mengandung unsur kekerasan.Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah (Era Muslim, 27/07/2004).Sementara itu sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat, yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun terbukti memperoleh nilai yang lebih rendah dibanding anak yang sedikit saja menghabiskan waktunya untuk menonton tayangan yang sama (KCM, 11/08/2005). Dua survei itu sebenarnya bisa jadi pelajaran.

Namun di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli, Buser, TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak.Demikian pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba glamour.Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah.Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang "aneh-aneh" tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang sebagai pemikat.Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik.

Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu. Peranan Orangtua Memang televisi bisa berdampak kurang baik bagi anak, namun melarang anak sama sekali untuk menonton televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi anak-anak.Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka tonton dan mana yang tidak boleh.Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat menonton televisi.Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu tayangan yang sedang disaksikan.Selain sarana membangun komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan mengonsumsi televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.
Perlu dipahami bahwa tempat pendidikan paling utama adalah di keluarga, dimana orangtua adalah yang paling bertanggungjawab di dalamnya.Kenapa mesti orangtua?Karena orangtua yang bisa mengawasi anaknya lebih lama.Orangtua paling dekat anaknya.Dalam keluargalah anak bertumbuh kembang.Membiarkan anak menonton televisi secara berlebihan berarti membiarkan tumbuh kembang dan pendidikan anak terganggu.Kewajiban orangtua juga untuk memantau kegiatan belajar anak di rumah.Perkembangan si anak tidak bisa terlalu dibebankan pada sekolah.

Dalam kesehariaannya, guru di sekolah tidak akan bisa mengantikan peran orangtua. Karena itu menjadi suatu keharusan bagi orangtua untuk tetap memperhatikan si anak selama di rumah. J Drost SJ (2000), seorang ahli pendidikan dari IKIP Sanata Dharma pernah menulis dalam buku Reformasi Pengajaran: Salah Asuhan Orantua?: "Penanaman nilai-nilai dalam pembentukan watak merupakan proses informal. Tidak ada pendidikan formal.Jadi seluruh pembentukan moral manusia muda hanya lewat interaksi informal antara dia dan lingkungan hidup manusia muda itu.Maka pendidik utama adalah orangtua.

Kenapa Kita Harus Mengurangi Menonton TV?
• Berpengaruh terhadap perkembangan otak
Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.
• Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif.
• Berpengaruh terhadap Sikap
Anak yang banyak menonton TV namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa.
• Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.
• Membentuk pola pikir sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.
• Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.
• Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri.Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan.Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.
• Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya 'terpotong' atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang 'berbagi cerita' antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.
• Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis semakin ketat antar Media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab sosial,moral& etika.

Wallahu a’lam bisshawab…
Selengkapnya...

Corak Kekhalifahan dalam Islam (2)
18.32 | Author: alinaksi ahmad

2. Periode Dinasti Umayah (661 – 750 M)
Periode negara Madinah berakhir dengan wafatnya Ali bin Abi Thalib. Wafatnya Ali dianggap berakhirnya satu era yakni era al-Khulafa al-Rasyidun. Sejalan dengan itu, berakhir pula suatu tradisi pengisian jabatan kepala negara melalui musyawarah. Tokoh yang naik ke panggung politik selanjutnya adalah Muawiyah ibn Sofyan. kerajaan Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 41 H/661 M di Damaskus dan berlangsung hingga pada tahun 132 H/ 750 M. Muawiyah bin Abu Sufyan adalah seorang politisi handal di mana pengalaman politiknya sebagai gubernur Syam pada zaman Khalifah Usman cukup mengantarkan dirinya mampu mengambil alih kekuasaan dari genggaman keluarga Ali bin Abi Thalib. Tepatnya Setelah Husein putra Ali bin Abi Thalib dapat dikalahkan oleh Umayyah dalam pertempuran di Karbala. Kekuasaan dan kejayaan Dinasti Umayyah mencapai puncaknya di zaman Al-Walid. Dan sesudah itu kekuasaan mereka menurun.
Walaupun Muawiyah mengubah sistem pemerintahan dari musyawarah menjadi monarki, namun dinasti ini tetap memakai gelar khalifah. Namun ia memberikan interpretasi baru untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang diangkat Allah dalam memimpin umat dengan mengaitkannya kepada al Qur’an (2:30). Atas dasar ini dinasti menyatakan bahwa keputusan-keputusan Khalifah berdasarkan atas kehendak Allah, siapa yang menentangnya adalah kafir. Dengan kata lain pemerintahan Dinasti Umayyah bercorak teokratis, yaitu penguasa yang harus ditaati semata-mata karena iman. Seseorang selama menjadi mukmin tidak boleh melawan khalifahnya, sekalipun ia beranggapan bahwa khalifah adalah seseorang yang memusuhi agama Allah dan tindakan-tindakan khalifah tidak sesuai dengan hukum-hukum syariat. Dengan demikian, meskipun pemimpin dinasti ini menyatakan sebagai khalifah akan tetapi dalam praktiknya memimpin umat Islam sama sekali berbeda dengan khalifah yang empat sebelumnya, setelah Rasulullah. Jabatan raja menjadi turun-temurun, dan daulah Islam berubah sifatnya menjadi daulah yang bersifat kerajaan (monarkhi). Muawiyah tidak menaati isi perjanjian yang telah dilakukannya dengan Hasan bin Ali ketika ia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan pergantian pemimpin setelah Muawiyah akan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Hal ini terjadi ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. Sejak saat itu suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai.Perubahan yang paling menonjol pada masa Bani Umayyah terjadi pada sistem politik, diantaranya adalah: (a) politik dalam negeri, yakni pertama, pemindahan pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus. Kedua, pembentukan lembaga baru. Dalam menjalankan pemerintahannya Bani Umayyah dibantu oleh beberapa al Kuttab (sekretaris) yang meliputi:64 (a) Katib al Rasaail yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat-menyurat dengan pembesar-pembesar setempat. (b) Katib al Kharraj yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara. (c) Katib al Jund yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan hal-hal yang berkaitan dengan ketentaraan. (d) Katib asy Syurthah yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum. (e) Katib al-Qaadhi yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.
Pada masa Bani Umayyah banyak kemajuan yang telah dicapai. Ekspansi yang terhenti pada masa Khalifah Usman dan Ali dilanjutkan oleh dinasti ini, sehingga kekuasaan Islam betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Turkmenia, Uzbekistan dan Kirgistan di Asia Tengah. Di samping melakukan perluasan wilayah kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga berjasa dalam bidang pembangunan dan kemajuan ilmu pengetahuan, misalnya mendirikan dinas pos, menertibkan angkatan bersenjata, memperbaharui sistem perpajakan, mencetak mata uang mendirikan masjid qubbah al-shaqra(Dome of The Rock). Ilmu naqli, yaitu filsafat dan ilmu eksakta mulai dirintis. Ilmu tafsir al-Qur’an berkembang dengan pesat, karena orang Muslim membutuhkan hukum dan undang-undang, yang bersumber pada al-Qur’an. Apabila menemui kesulitan dalam melakukan penafsiran, mereka mencarinya dalam al-hadist.

3. Periode Dinasti Abbasiah (750 – 1258 M)
Bani Abbasiah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad, Irak. Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini naik kekuasaan setelah mengalahkan Bani Umayyah dari semua kecuali Andalusia. Bani Abbasiah dibentuk oleh keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, Abbas. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Baghdad.
Fondasi bangunan dinasti dibangun melalui kekerasan, dalam mempertahankan kekuasaan juga terpaksa dilakukan dengan cara kekerasan dan intrik-intrik politik. Bentuk dan sistem pemerintahan, struktur organisasi pemerintahan dan administrasi pemerintahan Dinasti Abbasiah pada dasarnya sama dengan Dinasti Umayah, hanya terdapat beberapa penambahan saja. Bentuk negara tetap monarki dan gelar kepala negara tetap khalifah, hanya saja ada penambahan gelar khalifah sebagai zhulullahi fil ardhi (Bayangan Allah di bumi). Pernyataan ini mengandung arti bahwa khalifah memperoleh kekuasaan dan kedaulatan dari Allah, maka kekuasaan itu bersifat absolut. Sebab kekuasaan itu dianggap sebagai penjelmaan kekuasaan Tuhan sebagai penguasa alam semesta. Interpretasi ini nampaknya dipengaruhi oleh kebudayaan Persia, karena kota Baghdad, pusat pemerintahan Dinasti Abbasiah berada di lingkungan Persia. Mereka juga menggunakan gelar imam sebagai pemimpin umat Islam di bidang spiritual. Gelar imam ini telah lazim digunakan oleh kelompok Syi’ah dan penggunaan kata imam ini bukan hanya di bidang agama saja, juga dalam lapangan politik.
Struktur organisasi Dinasti Abbasiah terdiri dari al-khilafat, al-wizarat, al-kitabat, al hijabat. Lembaga khilafat dijabat oleh seorang khalifah dan suksesi khalifah berjalan secara turun temurun di lingkungan keluarga Dinasti Abbasiah. Lembaga al wizarat (kementrian) dipimpin oleh seorang wazir, seperti menteri pada zaman sekarang. Lembaga dan jabatan ini baru dalam sejarah pemerintahan Islam yang diciptakan oleh Abu Ja’far al-Mansur. Wazir membawahi kepala-kepala departemen. Wazir adalah pembantu dan penasehat utama khalifah, mewakilinya dalam pelaksanaan pemerintahan, mengangkat para pejabat negara atas persetujuan khalifah. Wazir juga berkedudukan sebagai kepala pemerintahan eksekutif dan pemimpin angkatan bersenjata.
Dalam hal pengangkatan putra mahkota, Abbassiah meniru sistem yang digunakan oleh Umayyah, yakni menetapkan dua orang putra mahkota sebagai pengganti pendahulunya yang berakibat fatal karena dapat menimbulkan pertikaian antar putra mahkota.
Al-Mu'tashim, Khalifah berikutnya (833-842M), memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah Umayyah, Dinasti Abbasiah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktik orang-orang Muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer Dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat.
Di samping itu, ada pula ciri-ciri menonjol Dinasti Bani Abbas yang tak terdapat di zaman Bani Umayyah: (1) dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam, sedangkan Dinasti Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat, dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan dinasti ini. (2) Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Bani Abbas ada jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah. (3) Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya, belum ada tentara khusus yang profesional. Di samping jabatan wazir tersebut, masih terdapat dua jabatan penting, yakni hajib, perantara antara rakyat dan khalifah. Saat seseorang atau utusan dari mancanegara sebelum menghadap khalifah ia harus mencatat atau memperkenalkan diri kepada sang hajib yang membawanya kepada khalifah. Selain itu ada juga jallad yakni pelaksana hukuman, termasuk hukuman mati (algojo) yang selalu siap dibelakang khalifah, jabatan ini diadopsi dari Persia.

4. Periode Dinasti Usmaniyah
Bangsa Turki terbagi dalam berbagai suku, salah satu yang terkenal adalah suku Ughuj. Suku ini terbagi dalam 24 sub-suku. Dalam salah satu sub-suku tersebut lahirlah Sultan pertama dari Dinasti Turki Usmani yang bernama Usman. Pada saat Bangsa Mongol (sebelum Islam) dan orang Kristen, ingin menghapuskan Islam dari peta bumi, orang Turki Usmani muncul sebagai pelindung Islam hingga ke tengah-tengah daratan Eropa.
Pada awalnya Turki Usmani hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, namun dengan dukungan militer, Turki Usmani menjadi kerajaan yang besar dan bertahan dalam kurun yang lama. Setelah Usman meninggal pada 1326 M, putranya, Orkhan (Urkhan) naik tahta pada usia 42 tahun. Pada periode ini Islam pertama kali masuk Eropa. Orkhan berhasil mereformasi dan membentuk tiga pasukan utama tentara yakni: tentara sipahi (tentara reguler) yang mendapat gaji pada tiap bulannya. Tentara hazeb (tentara irreguler) yang digaji pada saat mendapatkan harta rampasan perang (mal al-ghanimah) dan tentara jenisari yang direkrut pada saat berumur 12 tahun, kebanyakan adalah anak-anak Kristen yang dibimbing Islam dengan disiplin yang kuat. Selanjutnya tentara ini terbagi dalam sepuluh, seratus dan seribu tiap kelompoknya. Mereka diasingkan dari keluarga, dan membawa kejayaan Usmani.
Kepemimpinan selanjutnya diperintah oleh al Fatih. Dalam masa kepemimpinan al Fatih diterapkanlah sebuah undang-undang yang disahkan dalam qanun namah, yakni yang menetapkan bahwa membunuh saudara kandung, termasuk keponakan, paman, dan keluarga dekat yang dianggap bersaing dalam perebutan kekuasaan adalah halal. Dengan alasan bahwa lebih baik negara itu utuh daripada kehilangan wilayah. Fatwa ini disahkan oleh Sheikh al-Islam. Sekalipun pada masa sebelumnya yakni pada masa Murad I telah ada, namun belum disahkan dalam perundang-undangan. Baru setelah abad ke-16 M, aturan ini dilonggarkan, yakni bahwa mereka tidak dibunuh namun semenjak lahir diasingkan dan dimasukkan penjara.
Setelah al Fatih meninggal, ia digantikan oleh putranya Bayazid II, kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Salim I yang terkenal sangat kejam. Sebelum menjadi Sultan, ia melawan ayahnya dan banyak melakukan pembunuhan terhadap saudaranya yang bersaing merebutkan tahta. Ia juga menaklukkan Asia Kecil, Persia, dan Mesir. Ia juga berhasil menaklukkan Sultan Mamluk (1517 M). di samping itu ia juga berhasil memindahkan khalifah boneka Bani Abbas yang bernama Ahmad ke Konstantinopel dan secara paksa mengambil gelar sakral dan selanjutnya digunakan oleh Sultan Turki, Salim I. Dengan pemindahan jabatan sakral dari Kairo ke Konstantinopel ini, maka sejak saat itu Konstantinopel berubah nama menjadi Istambul dan ibu kota juga di pindah ke kota ini.
Sejak saat itulah, dalam sejarah Islam terdapat dua jabatan penting yang dikuasai oleh seorang penguasa, yakni sebagai sultan untuk kekuasaan dan sebagai khalifah bagi seluruh dunia Islam dan Turki Usmani mengalami kemunduran pada masa kepemimpinan setelah Sulaiman.


DAFTAR PUSTAKA
Karim, M. Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Maududi, Abul A’la. 1996. Khilafah dan Kerajaan Evaluasi Kritis Atas Sejarah Pemerintahan Islam terj. Muhammad al Baqir. Bandung, Mizan.
Yatim, Badri. 1998. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
http://id.wikipedia.org/wiki/khalifah diakses pada tanggal 19 Oktober 2010
http://hewar.7forum.biz/kewangan-islam-f7/baitul-mal-zaman-khalifah-abu-bakar-t100.htm diakses tanggal 19 Oktober 2010
Selengkapnya...

Corak Kekhalifahan dalam Islam (1)
18.27 | Author: alinaksi ahmad

Pendahuluan
Setiap periode dan zaman memiliki sejarah dan peradaban yang berbeda. Dalam setiap masanya, pasti akan muncul ide-ide besar dan produk pemikiran yang berbeda-beda. Demikian halnya dengan tokoh-tokoh yang ditinggalkannya, pasti akan ada tokoh dengan gaya dan karakteristik yang berbeda juga. Islam yang diklaim sebagai agama yang paling sempurna, baik dari kalangan intern maupun kalangan ekstern, bahkan orientalis sekalipun mempunyai kisah sendiri menyangkut sejarah dan ketatanegaraan Islam. Bermula sejak Nabi Saw., kepemimpinan al-Khulafa al-Rasyidun, hingga dinasti-dinasti lain setelahnya. Berikut ini disampaikan corak kekhalifahan, kebijakan, serta gaya kepemimpinan masing-masing pemimpin dalam sejarah kekhalifahan Islam.Periode Al-Khulafa Al-Rasyidun (632 – 661 M)

A. Sistem Politik Islam Masa Khalifah Abu Bakar
Abu Bakar terpilih sebagai khalifah (pengganti Nabi) bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi hasil dari musyawarah mufakat umat Islam. Dengan terpilihnya Abu Bakar menjadi khalifah, maka mulailah ia menjalankan kekhalifahannya, baik sebagai pemimpin umat maupun sebagai pemimpin pemerintahan. Adapun sistem politik Islam pada masa Abu Bakar bersifat “sentral”, jadi kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat di tangan khalifah, meskipun demikian dalam memutuskan suatu masalah, Abu Bakar selalu mengajak para sahabat untuk bermusyawarah.
Kebijaksanaan politik yang diilakukan Abu Bakar dalam mengemban kekhalifahannya yaitu: (1) mengirim pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, untuk memerangi kaum Romawi sebagai realisasi dari rencana Rasulullah, ketika ia masih hidup, (2) memberantas kemunafikan dan kemurtadan. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa setelah Nabi wafat, maka segala perjanjian dengan Nabi menjadi terputus. Adapun orang murtad pada waktu itu ada dua yaitu: (a) mereka yang mengaku nabi dan pengikutnya, termasuk di dalamnya orang yang meninggalkan sholat, zakat dan kembali melakukan kebiasaan jahiliyah, (b) mereka membedakan antara sholat dan zakat, tidak mau mengakui kewajiban zakat dan mengeluarkannya. Dalam menghadapi kemunafikan dan kemurtadan ini, Abu Bakar tetap pada prinsipnya yaitu memerangi mereka sampai tuntas, (3) mengembangkan wilayah Islam keluar Arab, terutama ditujukan ke Syiria dan Persia.
Adapun kebijakan di bidang pemerintahan yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah: (1) pemerintahan berdasarkan musyawarah. Apabila terjadi suatu perkara, Abu Bakar selalu mencari hukumnya dalam kitab Allah. Jika tidak memperolehnya maka ia mempelajari bagaimana Rasul bertindak dalam suatu perkara. Apabila tidak ditemukan apa yang dicari, ia pun mengumpulkan tokoh-tokoh yang terbaik dan mengajak mereka bermusyawarah. Apapun yang diputuskan mereka setelah pembahasan, diskusi, dan penelitian, maka Abu Bakar menjadikannya sebagai suatu keputusan dan suatu peraturan. (2) Abu Bakar merintis embrio baitul mal dalam arti yang lebih luas. Baitul mal bukan hanya berarti pihak (al- jihat) yang menangani harta umat, namun juga berarti suatu tempat (al-makan) untuk menyimpan harta negara. Abu Bakar menyiapkan tempat khusus di rumahnya berupa karung atau kantung untuk menyimpan harta yang dikirimkan ke Madinah. Hal ini berlangsung sampai beliau wafat pada tahun 13 H/634 M. (3) Pemerintahannya demokratis dan berdaulat . Hal ini terlihat dari konsep pemerintahan politik dalam pemerintahan Abu Bakar yang telah ia jelaskan sendiri kepada rakyat banyak dalam sebuah pidatonya (4) Abu Bakar tidak pernah memberi sanak kerabatnya suatu kekuasaan yang lebih tinggi dari undang-undang. Mereka di hadapan undang-undang adalah sama seperti rakyat yang lain, baik kaum Muslim maupun non Muslim.

B. Sistem Politik Islam Masa Umar bin Khattab
Sebelum Abu Bakar wafat, ia telah menunjuk Umar bin Khattab sebagai pengganti posisinya dengan meminta pendapat dari tokoh-tokoh terkemuka dari kalangan sahabat seperti Abdurrahman bin Auf, Usman, dan Talhah bin Ubaidillah. Masa pemerintahan Umar berlangsung selama 10 tahun 6 bulan, yaitu dari tahun 13 H/634 M sampai tahun 23H/644 M. Umar wafat pada usia 64 tahun. Selama masa pemerintahan dimanfaatkan oleh Umar untuk menyebarkan ajaran Islam dan memperluas kekuasaan ke seluruh semenanjung Arab.
Dalam masa pemerintahannya, Umar telah membentuk lembaga-lembaga yang disebut juga dengan ahlul hall wal aqdi, Secara etimologi,ahlul hall wal aqdi adalah lembaga penengah dan pemberi fatwa. Sedangkan menurut terminologi, adalah wakil-wakil rakyat yang duduk sebagai anggota majelis syura, yang terdiri dari alim ulama dan para cendekiawan yang menjadi pemimpin-pemimpin rakyat dan dipilih atas mereka. Dinamakan ahlul hall wal aqdi untuk menekankan wewenang mereka guna menghapuskan dan membatalkan. Anggota dewan ini terpilih karena dua hal yaitu: (1) mereka yang telah mengabdi dalam dunia politik, militer, dan misi Islam, selama 8 sampai dengan 10 tahun (2) orang-orang yang terkemuka dalam hal keluasan wawasan dan dalamnya pengetahuan tentang yurisprudensi dan al Qur’an.
Lembaga-lembaga yang disebut dengan ahlul hall wal aqdi di antaranya adalah: (1) Majelis Syura (Dewan Penasehat), ada tiga bentuk: (a) Dewan Penasehat Tinggi, yang terdiri dari para pemuka sahabat yang terkenal, antara lain Ali, Usman, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabbal, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Tolhah dan Zubair (b) Dewan Penasehat Umum, terdiri dari banyak sahabat (Anshar dan Muhajirin) dan pemuka berbagai suku, bertugas membahas masalah-masalah yang menyangkut kepentingan umum (c) Dewan antara Penasehat Tinggi dan Umum. Beranggotakan para sahabat (Anshar dan Muhajirin) yang dipilih, hanya membahas masalah-masalah khusus. (2) Al-Katib (Sekretaris Negara), di antaranya adalah Abdullah bin Arqam. (3) Nidzamul Maly (Departemen Keuangan) mengatur masalah keuangan dengan pemasukan dari pajak bumi, ghanimah, jizyah, fai’ dan lain-lain. (4) Nidzamul Idary (Departemen Administrasi), bertujuan untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat, di antaranya adalah diwanul jund yang bertugas menggaji pasukan perang dan pegawai pemerintahan. (5) Departemen Kepolisian dan Penjaga yang bertugas memelihara keamanan dalam negara. (6) Departemen Pendidikan dan lain-lain.
Dalam rangka desentralisasi kekuasaan, pemimpin pemerintahan pusat tetap dipegang oleh Khalifah Umar bin Khattab, sedangkan di propinsi, ditunjuk gubernur (orang Islam) sebagai pembantu khalifah untuk menjalankan roda pemerintahan.
Umar meninggal pada tahun 644 M karena ditikam oleh Fairuz (Abu Lukluk), budak Mughirah bin Abu Sufyan dari perang Nahrrawain yang sebelumnya adalah bangsawan Persia. Mughirah dipecat oleh Umar karena ia melakukan pembocoran rahasia Negara dan pengkhianatan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa alasan pembunuhan politik pertama kali dalam sejarah Islam adalah adanya rasa syu’ubiyah (fanatisme) yang berlebihan pada bangsa Persia dalam dirinya. Sebelum meninggal, Umar mengangkat Dewan Presidium untuk memilih khalifah pengganti dari salah satu anggotanya. Mereka adalah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Saad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf. Sedangkan anaknya (Abdullah bin Umar), ikut dalam dewan tersebut, tapi tidak dapat dipilih, hanya memberi pendapat saja. Akhirnya, Usman yang terpilih setelah terjadi perdebatan yang sengit antar anggotanya. Alasan pembentukan tim tersebut menurut Umar adalah karena ia tidak sebaik Abu Bakar yang dapat menunjuk seseorang sebagai penggantinya, akan tetapi Umar juga tidak bisa sebaik Rasulullah untuk membiarkan para sahabatnya memilih pengganti, maka diambil jalan tengah yakni dengan membentuk tim formatur untuk bermusyawarah menentukan pengganti Umar.

C. Sistem Politik Islam Masa Usman bin Affan
Pada masa Khalifah Usman, konsep kekhalifaan sudah mulai mundur, dalam arti interest politik disekitar khalifah mulai banyak diwarnai oleh dinamika kepentingan suku dan perbedaan interpretasi konsep kepemimpinan dalam Islam. Pemerintahan Usman berlangsung selama 12 tahun. Pada masa awal pemerintahannya, ia berhasil memerintah dengan baik sehingga Islam mengalami kemajuan dan kemakmuran pesat. Namun pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa umat Islam terhadapnya. Oleh karena itu, orang-orang menuduh Khalifah Usman melakukan nepotisme, dengan mengatakan bahwa beliau menguntungkan sanak saudaranya Bani Umayyah, dengan jabatan tinggi dan kekayaannya. Mereka juga menuduh pejabat-pejabat Umayyah suka menindas dan menyalahkan harta baitul maal. Di samping itu Usman juga dituduh sebagai orang yang boros mengeluarkan belanja, dan kebanyakan diberikan kepada kaum kerabatnya sehingga hampir semuanya menjadi orang kaya.
Pengangkatan pejabat di kalangan keluarga oleh Khalifah Usman telah menimbulkan protes keras di daerah dan menganggap Usman telah melakukan nepotisme. Menurut Muhammad Ali (dalam M. Abdul Karim, 2007:98), protes orang dengan tuduhan nepotisme tidaklah beralasan karena pribadi Usman itu bersih. Pengangkatan kerabat oleh Usman bukan tanpa pertimbangan. Hal ini ditunjukkan misalnya oleh jasa yang dibuat oleh Abdullah bin Sa‘ad dalam melawan pasukan Romawi di Afrika Utara dan juga keberhasilannya dalam mendirikan angkatan laut. Ini menunjukkan Abdullah bin Sa’ad adalah orang yang cerdas dan cakap, sehingga pantas menggantikan Amr bin ‘Ash yang sudah lanjut usia. Hal lain ditunjukkan ketika diketahui Walid bin Uqbah melakukan pelanggaran berupa mabuk-mabukkan, ia dihukum cambuk dan diganti oleh Sarad bin Ash. Hal tersebut tidak akan dilakukan oleh Usman, jika ia hanya menginginkan kerabatnya duduk di pemerintahan. Akhirnya, terdapat beberapa alasan yang dapat dikemukakan bahwa Usman tidak nepotisme dalam menjalankan roda pemerintahan namun lebih karena pengangkatan saudara-saudaranya itu berangkat dari profesionalisme kinerja mereka dilapangan.


D. Sistem Politik Islam Masa Ali bin Abi Thalib
Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah Amirul Mukminin keempat yang dikenal sebagai orang yang alim, cerdas dan taat beragama. Ali juga saudara sepupu Nabi Saw. (anak paman Nabi, Abu Thalib), yang jadi menantu Nabi, suami dari putri Rasulullah serta mempunyai keturunan. Dalam pemilihan khalifah terdapat perbedaan pendapat antara pemilihan Abu bakar, Usman dan Ali. Ketika kedua pemilihan khalifah terdahulu (Khalifah Abu Bakar dan Umar), meskipun mula-mula terdapat sejumlah orang yang menentang, tetapi setelah calon terpilih dan diputuskan menjadi khalifah, semua orang menerimanya dan ikut berbaiat serta menyatakan kesetiaannya. Namun lain halnya ketika pemilihannya Ali, justru sebaliknya.
Setelah terbunuhnya Usman bin Affan, masyarakat beramai-ramai datang dan membaiat Ali sebagai Khalifah. Ali diangkat melalui pemilihan dalam pertemuan terbuka. Akan tetapi suasana pada saat itu sedang kacau, karena hanya ada beberapa tokoh senior masyarakat Islam yang tinggal di Madinah, sehingga keabsahan pengangkatan Ali ditolak oleh sebagian masyarakat termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Meskipun hal itu terjadi, Ali masih menjadi khalifah dalam pemerintahan Islam. Pro dan kontra terhadap pengangkatan Ali terjadi karena beberapa hal yaitu bahwa orang yang tidak menyukai Ali diangkat menjadi khalifah, bukanlah rakyat umum yang terbanyak. Akan tetapi golongan kecil (keluarga Umayah) yaitu keluarga yang selama ini telah hidup bergelimang harta selama pemerintahan Khalifah Usman. Mereka menentang Ali karena khawatir kekayaan dan kesenangan mereka akan hilang lenyap karena keadilan yang akan dijalankan oleh Ali. Adapun rakyat terbanyak, mereka menantikan kepemimpinan Ali dan menyambutnya dengan tangan terbuka. Ali akan dijadikan tempat berlindung melepaskan diri dari penderitaan yang mereka alami.
Setelah Ali di-baiat menjadi khalifah, ia mengeluarkan dua kebijaksanaan politik yang sangat radikal yaitu: (1) memecat kepala daerah angkatan Usman dan menggantikan dengan gubernur baru, (2) mengambil kembali tanah yang dibagi–bagikan Usman kepada keluarga dan kaum kerabatnya tanpa jalan yang sah.
Ketika Ali menjadi khalifah ada dua kelompok oposisi yang menentang kekhalifahan Ali, yaitu kelompok oposisi yang dipimpin oleh Abdullah Ibnu Zubair (anak angkat Siti Aisyah) dan kelompok oposisi yang dipimpin oleh gubernur Syria, yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan. Kelompok oposisi pimpinan Abdullah Ibnu Zubair melahirkan perang yang popular dengan sebutan perang Jamal, karena dalam perang tersebut terlibat Siti Aisyah dengan mengendarai unta yang berdiri dipihak oposisi. Mengapa Aisyah dalam perang tersebut berada dipihak oposisi. Hal tersebut semata–mata karena kuatnya eksploitasi Abdullah Ibnu Zubair atas ambisinya untuk menjadi khalifah setelah Ali terguling. Secara kebetulan Aisyah pada saat itu sedang menaruh kecurigaan pada kelompok Ali tentang siapa yang membunuh Khalifah Usman. Kondisi yang demikian inilah dimanfaatkan oleh Abdullah bin Zubair.
Kelompok oposisi pimpinan Mu’awiyah, Gubernur Syria, melahirkan peperangan yang terkenal dengan sebutan perang Shiffin. Perang tersebut diakhiri dengan genjatan senjata, mengangkat mushaf al Qur’an. Peperangan ini terjadi tidak disebabkan oleh interest politik pribadi Mu’awiyah, tetapi juga disebabkan oleh konflik etnis yang bersifat laten zaman sebelum Islam, yaitu antara Bani Ummayyah dan Bani Hasyim. Sebenarnya Ali telah berusaha menghindari terjadinya peperangan. Akan tetapi pendukung Ali sendiri tanpa instruksi, memulai sehingga pecahlah perang yang sangat merugikan integrasi Islam itu. Kekalahan Ali dalam diplomasi perang tersebut menyebabkan dunia Islam diperintah berdasarkan sistem monarchi, yaitu suksesi kepemimpinan yang berdasarkan turun-temurun. Di samping itu, kekalahan Ali dalam perang tersebut, menyebabkan lahirnya golongan Syi’ah, dengan doktrin, bahwa hanya Ali dan keturunannya yang berhak menjadi Khalifah.
Dengan meninggalnya Ali bin Abi Thalib, kedudukannya sebagai khalifah digantikan dan dijabat oleh anaknya Hasan Ibnu Ali bin Abi Thalib selama beberapa bulan. Namun karena Hasan ternyata lemah sementara Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertambah kuat, maka Hasan bin Ali membuat perjanjian damai. Perjanjian ini dapat mempersatukan umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan politik dibawah pimpinan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Pada tahun 41 H (661 M) merupakan tahun persatuan, yang dikenal dalam sejarah sebagai tahun jama’ah (‘Am al Jama’ah). Dengan demikian berakhirlah apa yang disebut dengan masa al-Khulafa ar-Rasyidun dan dimulailah kekuasaan Bani Umaiyyah dalam sejarah politik Islam.


DAFTAR PUSTAKA
Karim, M. Abdul. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Maududi, Abul A’la. 1996. Khilafah dan Kerajaan Evaluasi Kritis Atas Sejarah Pemerintahan Islam terj. Muhammad al Baqir. Bandung, Mizan.
Yatim, Badri. 1998. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
http://id.wikipedia.org/wiki/khalifah diakses pada tanggal 19 Oktober 2010
http://hewar.7forum.biz/kewangan-islam-f7/baitul-mal-zaman-khalifah-abu-bakar-t100.htm diakses tanggal 19 Oktober 2010
Selengkapnya...

yang penting usaha,,
19.25 | Author: alinaksi ahmad


Pernahkah anda bertanya-tanya atau bahkan mengeluh ketika suatu saat kita sedang berusaha?? Tidak jarang kita menjadi pesimis dan putus asa di tengah jalan. Suatu ketika kita akan menghadapi ujian. Ujian dalam konteks ini adalah ujian yang biasa ditemui para pelajar baik itu di sekolah ataupun perguruan tinggi. Ketika mau ujian, mereka mengeluh tentang banyaknya materi yang harus dipelajari agar bisa sukses dalam ujian nanti. Banyak dari mereka yang kemudian justru berhenti dan tidak mau melanjutkan lagi belajar mereka, mungkin karena mereka sudah terlalu letih dan tidak sanggup untuk melanjutkan membaca bahan yang segepok itu. memang sebenarnya kalau mau dirunut penyebabnya, ya semua itu buah dari menunda nunda dan menumpuk apa yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi mari kita coba melihat dari sisi yang berbeda.

Sebagai seorang muslim, kita sudah selayaknya dan semestinya yakin 100% bahwa Allah itu merupakan sebaik-baik pengatur kehidupan ini. tak ada alasan untuk tidak percaya dan yakin pada semua ketetapan Allah, karena kita hanya mahluk (yang diciptakan) dan Allah adalah Khalik (pencipta). Belajar merupakan salah satu usaha kita untuk bisa menjadi lebih tau dari sebelumnya, kalau dalam bahasa sederhananya kita belajar agar menjadi pintar. Nah, perlu kita ingat lagi tuh kalau membuat orang menjadi tahu, menjadi pintar, ataupun menjadi seorang yang jenius adalah wewenang Allah. Allah lah yang menjadikan semua itu bisa terjadi, bukan kita. Jadi, tanamkanlah keyakinan dalam diri kita bahwa apa yang kita lakukan pada dasarnya merupakan washilah (perantara) untuk menuju pada hajat kita. Kita belajar adalah salah satu usaha untuk menjadi pintar, tapi tetap saja yang menjadi penentunya adalah Allah. Gak usah terlalu risau dengan usaha kita, Allah tentu akan menghargai setiap usaha hambanya..

Apabila perasaan tersebut sudah kita mantapkan dalam hati, insyaallah apapun yang kita kerjakan tidak akan pernah merisaukan kita. Belajar dengan materi segepok atau sebanyak apapun gak masalah, urusan paham gak paham biar Allah yang ngatur. Yang penting kita belajar beneran dan sungguh-sungguh agar bisa menjalani setiap ujian yang menghadang..

Selengkapnya...



Dewasa ini, media komunikasi menjadi satu hal yang tidak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan manusia, baik itu anak-anak, remaja, ataupun orang dewasa. Media komunikasi itu bisa berupa Koran, televise, handphone , dan juga jejaring sosial di internet. Di satu sisi, media komunikasi sangat membantu dalam penyebaran informasi terkini, akan tetapi di sisi lain, media komunikasi saat ini justru menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas bahasa Indonesia.
Kabar jelek untuk bangsa Indonesia di tahun ini adalah nilai Ujian Nasional (UN) tingkat SMA sederajat untuk materi Bahasa Indonesia anjlok luar biasa, yakni 73 persen siswa tidak lulus materi tersebut. (www.suarapembaruan.com). Begitu juga di tingkat SMP mengalami hal yang sama, khususnya SMP di Jakarta sebanyak 4.198 siswa dari 13.326 peserta UN atau 31,5 persen tidak lulus UN karena gagal dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. (www.beritajakarta.com). Tidak akan ada kebakaran tanpa adanya api, begitu pula dengan fenomena ini. tentu ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhinya.
Sebuah stasiun televisi swasta memberitakan bahwa ditengarai penggunaan bahasa gaul, khususnya dalam berkomunikasi sehari-hari di antara para remaja menjadi sebab menurunnya kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia. Hal ini berpengaruh langsung terhadap kemampuan siswa memahami materi pelajaran Bahasa Indonesia, dan akhirnya penalaran dalam menjawab soal UN juga terhambat.
Bahasa remaja atau ABG yang sedang populer sekarang ini adalah bahasa Alay yang biasanya digunakan secara tertulis berupa SMS (Short Message Service) atau status di Facebook (FB). Bahasa anak remaja yang merupakan bahasa gaul paling mutakhir ini memang bahasa paling kacau sepanjang sejarah bahasa gaul di Indonesia. Bahasa ini sangatlah jauh dari ketentuan penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi tidak berlebihan kiranya kalau banyak pakar bahasa yang menyebut bahasa alay sebagai bahasa perusak bahasa ibu, bahasa Indonesia.


BAHASA ALAY
Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat. Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar ( kuncorodiningrat ) Bahasa alay itu adalah variasi bahasa yang muncul karena adanya komunitas anak-anak remaja/muda, ia logikanya karena orang tua jarang memakai bahasa alay tersebut. Dulu pernah kita tahu adanya bahasa gaul yang digunakan dalam film lupus itu. Kalau definisi alay yang aku temukan dipelabagai media, ada yang menyebutkan bahwa alay itu adalah anak layangan, anak layu dan sebagainya, akan tetapi dalam makalah ini hanya membatasi pada bahasa alay yang sering digunakan oleh anak muda.
Kalau dulu bahasa gaul mempunyai aturan-aturan baku tertentu yang mesti dipatuhi, seperti bahasa prokem misalnya dengan menyisipkan kata “ok” untuk setiap perubahan kata, atau bahasa dibolak-balik yang mempunyai aturan sendiri, maka bahasa alay tidak mempunyai aturan sama sekali. Semakin sulit dipahami, maka bahasa alay dinilai semakin canggih.
Dengan meletakkan huruf kapital (huruf besar) dan kecil di mana saja suka-suka, menggantikan huruf tertentu dengan angka, simbol-simbol, atau huruf lain yang sebunyi, dan kemudian menyingkatnya sesuka hati, maka lengkaplah sudah kekacauan bahasa Alay.
Sebagai contoh penggunaan bahasa Alay dalam ber-SMS:
Qu mO d474ng k humz Qmu lEh g? Nx Qu tilp. Ppi Low @D
Bos d Humz qu g jd. Or qT MamZ d lwar za, gmn? Ntr Qu pckup d /4an Iank byza, oce. Saiang qmu.
- tulisan gede-kecil. “aLoW kLiAnZ hArUz ADd GwE YaH!!” atau dengan a ngggka “K4Ng3nZ dWEcChh” NNNNNZZZZZ
- iya : ia
- kamu: kamuh,kammo,kamoh,kamuwh,kamyu,qamu,etc
- aku : akyu,aq,akko,akkoh,aquwh,etc
- maaf: mu’uph,muphs,maav,etc
- sorry: cowyie,cory,tory(?),etc
- add : ett,etths,aad,edd,etc
- for : vo,fur(zz),pols,etc
- lagi : agi,agy
- makan: mums,mu’umhs,etc
- lucu : lutchuw,uchul,luthu,etc
- siapa: cppa,cp,ciuppu,siappva,etc
- apa : uppu,apva,aps,etc
- narsis: narciezt,narciest,etc
Dari susunan katanya sudah terlihat jelas sekali perbedaan, ada yang menambahkan huruf dari perubahannya seperti lucu menjadi lutchuw ataupun yang dikurangi hurupnya seperti makan menjadi mums. Sekilas memang masih bisa dipahami kalau kita mengamati bahasa tersebut, akan tetapi bahasa ini sudah sangat menyimpang jauh dari kaidah penulisan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

ANTARA BAHASA ALAY, KREATIFITAS, DAN KEMEROSOTAN KUALITAS BAHASA INDONESIA
Sebenarnya, tujuan dari penggunaan bahasa Alay oleh para remaja ABG sangat beragam, ada yang beralasan untuk kreatifitas, ada juga yang bertujuan untuk menyingkat karakter agar efisien atau agar ortu (orang tua) yang kebetulan memergoki mereka ketika ber-SMS atau mencuri-curi membuka hape anaknya menjadi puyeng sendiri karena tidak mengerti. Alasan-alasan itu sah-sah saja dan bisa diterima, asalkan masih dalam tahap yang “wajar”. Akan tetapi, pada perkembangannya, saat ini bahasa alay justru menjadi salah satu trend yang menyumbang besar pada kemerosotan kualitas bahasa Indonesia.
Bisa dibayangkan apabila setiap hari para remaja sudah biasa ber-SMS sampai ratusan kali dengan menggunakan bahasa alay terus-menerus, tidak mustahil mereka menjadi bingung ketika harus menjawab soal bahasa Indonesia yang mempunyai aturan baku tentang penggunaan huruf besar dan kecil, tanda-tanda baca, dan lain-lain.
Tidak berbeda dengan jejaring sosial. Jejaring sosial yang ada seperti facebook ataupun twitter juga menjadi wadah yang sangat nyaman bagi berkembangnya bahasa alay di kalangan remaja. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh pakar linguistik dari Universitas Kristen Petra Surabaya Prof. Dr. Esther Kuntjara yang menilai sejumlah situs jejaring sosial di dunia maya seperti facebook, twitter, dan sejenisnya telah merusak bahasa (www.wikimu.com).
Dalam seminar “Language in The Online and Offline World (LOOW)" yang digagas Jurusan Sastra Inggris UK Petra Surabaya, dosen UK Petra Surabaya itu mengungkapkan tentang kemerosotan kualitas bahasa.
Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya jejaring sosial yang sangat digandrungi oleh banyak kalangan, terutama remaja. Di dunia maya, bahasa yang digunakan adalah bahasa lisan yang ditulis, bukan bahasa tulis atau bahasa lisan, sehingga bahasa lisan yang ditulis dapat mengacaukan bahasa baku (Kompas - Rabu, 2 Juni).

Kreatifitas
Ekspresi kreatifitas, mungkin kata itu juga yang menjadi senjata utama para anak muda menyukai dan tetap melestarikan bahasa alay dalam kesehariannya. Bahasa alay menjadi salah satu cara mengekspresikan kreatifitas mereka karena di dalam bahasa alay terdapat banyak kombinasi huruf dan symbol-simbol. Bahasa yang seharusnya bisa ditulis dengan beberapa huruf saja, di tangan anak-anak muda bisa menjadi sangat panjang. Sebagai contoh adalah seperti yang telah diutarakan di bagian awal makalah ini. misal kata lucu, bisa menjadi : lutchuw,uchul,luthu, lutcyuuw dan lain sebagainya.
Apabila ditelaah lebih mendalam, ternyata kreatifitas itu justru menimbulkan kekacauan dalam berbahasa. Kekacauan bahasa itu terlihat karena peletakan gambar yang seenaknya dan kadang emosi juga diungkapkan secara tidak tepat. Hal ini karena kemunculan bahasa alay itu ternyata juga disebabkan adanya gambar-gambar dan simbol emosi yang tidak tepat penggunaannya.
sebagai contoh, kalau menyatakan tertawa keras ditulis dengan LOL, padahal mungkin saja penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga semuanya menjadi kacau atau rumit. Dengan semua kondisi yang telah dijelaskan, maka masih pantaskah bahasa alay tersebut disebut sebagai bahasa kreatif?

Penurunan Kualitas Bahasa
Seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, ternyata, Indonesia justru sangat tertinggal dalam kosakata baru dalam istilah teknologi informasi. Hal ini berdampak pada pengambilan bahasa asli seperti komputer, online, download, upload, website, dan sebagainya. Memang sudah diupayakan download diterjemahkan dengan unduh atau website dengan laman, tapi hal itu kalah cepat, sehingga hal itu tidak laku. Dr. Sudjoko (dalam Mulyana, 2006) pernah berujar, bangsa kita menderita krocojiwa yang rendah diri di hadapan Barat yang mereka kagumi sehingga membuat kita terlalu senang meniru dan membanggakan apapun yang berasal dari mereka.
Penyerapan bahasa asing dalam bahasa Indonesia saja sudah cukup menurunkan kualitas bahasa Indonesia, sekarang justru dipeparah oleh adanya bahasa baru, bahasa alay. Bahasa alay muncul dengan desain yang begitu beragam dan tanpa ada aturan. Semau penulis ingin berkata apa, ingin menyampaikan apa, tinggal mereka tulis dengan bahasa dan huruf sekenanya. Bukan menjadi hal yang aneh apabila saat ini bahasa Indonesia juga menjadi mata pelajaran yang sulit bagi anak-anak SMA, meskipun mereka adalah orang Indonesia yang juga berbahasa Indonesia setiap harinya.
Sebenarnya, hal demikian bukan hanya terjadi di Indonesia, di Inggris sejumlah media sempat mengangkat hal serupa dan mengemukakan bahwa komunikasi melalui media elektronik mulai memberi dampak negatif pada bahasa tulis. The Sun (24 April 2001) memandang fenomena bahasa yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi ini merupakan awal dari kematian bahasa Inggris yang baik. Ulasan padaThe Sun itu seolah dipertegas lagi dalam The Scotsman (4 Maret 2003), yang mengungkapkan betapa para guru saat itu mulai diperhadapkan pada esai yang tidak ditulis dalam bahasa Inggris standar, tetapi justru dalam bahasa pesan teks telepon selular yang minimalis dan ringkas. Demikian begitu dahsyatnya dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi apabila tidak bisa disikapi dengan baik.

EPILOG
Perkembangan media dan teknologi komunikasi saat ini sudah sangat luar biasa. Tanpa adanya perhatian khusus, maka kita semua justru akan terjajah oleh teknologi itu. Dalam kata-kata Williams (1987:7), “Apakah kita tuan atau korban teknologi komunikasi bergantung pada kemampuan kita sebagai kelompok untuk menggunakannya secara bijaksana agar bermanfaat bagi manusia.” Apabila kita hanya bisa menjadi korban, maka penyakit-penyakit yangs edang menggejala seperti “alay” akan terus tumbuh dan mengganas menjadi penyakit besar dan melumpuhkan bangsa kita.
Perlu tindakan nyata untuk bisa mengurangi atau bahkan kalau memungkinkan harus dihilangkan “penyakit” yang tengah menggejala ini. apabila dibiarkan terus menerus maka bangsa Indonesia hanya tinggal menghitung waktu menunggu punahnya bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bagaimana tidak, bahasa Indonesia akan tergantikan oleh bahasa-bahasa serapan dari bahasa asing dan juga bahasa-bahasa baru termasuk bahasa alay yang tidak jelas kaidahnya.
Tidak salah memang apabila kita menyingkat kata-kata dalam penulisan di SMS ataupun di jejaring sosial untuk tujuan efisiensi, yang salah adalah apabila kita merubah kata-kata sehingga kita lupa bagaimana bentuk aslinya. Tindakan seperti inilah yang seringkali membuat pelajar kesulitan mengenal bahasa mereka, bahasa Indonesia. Sebagai warga negara yang baik sudah sepantasnya apabila kita mencintai bahasa Indonesia dan melestarikannya, bukan malah ikut-ikutan merusak.
Mari kita cintai bahasa Indonesia.


sumber:
Ahmad, Abdullah Ibnu. 2010. Bahasa Alay Bisa, Nilai UN Bahasa Indonesia Anjlok, Sih Biasa. http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17013. Diakses pada tanggal 4 Juni 2010.
Internet dan Dampaknya bagi Komunikasi Berbahasa Indonesia. 2009. http://indonesiasaram.wordpress.com/2009/10/28/internet-dan-dampaknya-bagi-komunikasi-berbahasa-indonesia/ . Diakses pada tanggal 4 Juni 2010.
Kompas: Facebook dan Twitter Rusak Bahasa. Rabu, 2 Juni 2010. http://www.kompas.com. Diakses pada tanggal 5 Juni 2010.
Mulyana, Deddy. 2006. Peran komunikasi dalam pengembangan dan Penerapan iptek di Indonesia. Bandung: Widya Padjadjaran.
Mulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa: Kontroversi, Teori, dan Aplikasi. Bandung: Widya Padjadjaran.
Williams, Frederick. 1987. Technology and Communication Behavior. Belmont, California: Wadsworth.
Selengkapnya...

Bencana Alam dan Anak-Anak
09.35 | Author: alinaksi ahmad



Pada beberapa tahun terakhir ini sering sekali terjadi bencana alam yang melanda di berbagai negara. Bencana itu telah menyebabkan begitu banyak korban jiwa, fisik ,serta harta benda. Bagi korban yang selamat, maka ia akan sangat merasa terbebani dengan adanya cacat fisik yang ia derita, kerugian material, dan juga keadaan psikologis mereka. Hal ini tentu akan terasa sangat berat apabila tidak ada penanganan yang serius dari pihak-pihak yang terkait.
Penyintas tentunya akan merasa sangat terpukul dengan keadaan yang mereka alami, dan yang paling mengkhawatirkan adalah yang berasal dari kalangan anak-anak. Anak-anak masih sangat rentan kondisi psikologisnya, parahnya presentase jumlah koban yang berasal dari anak-anak di seluruh dunia lumayan besar , baik dalam angka kematian ataupun dampak lainnya. (Norris et al., 2002 a, b). Misalkan dalam bencana tsunami, 37 persen dari jumlah korban meninggal adalah berasal dari anak-anak (lebih dari 90.000), anak-anak yang masih hidup kehilangan saudara dan teman-temannya dan 7.722 anak ditinggal kedua orang tua mereka (World Bank, 2005).
Semua bencana yang terjadi tentunya akan menyebabkan trauma yang mendalam bagi para korbannya. Baik orang dewasa, maupun anak-anak. Pada awalnya, gejala trauma dari bencana pada anak dianggap sama dengan yang dialami oleh orang dewasa, (Anthony et al., 1999), hingga ditemukan satu hasil penelitian baru yang dilakukan oleh Terr (1979) yang mengemukakan pandangan bahwa anak akan merespon trauma dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa.
Para psikolog kemudian mulai kritis meneliti efek trauma terhadap anak-anak. Pynoos (1999) menyoroti model interaksi trauma dan stres dengan
tingkat perkembangan dan psikopatologi anak yang berbeda-beda. Tinjauan
Norris (2002) dan Vogel dan Vernberg (1993) menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak dalam menanggapi bencana berbeda-beda, tergantung pada banyak variabel, dan anak menunjukkan gejala trauma yang lebih parah daripada orang dewasa. Hal ini karena skema kognitif mereka yang masih terbatas (Leach, 2004).
Peran psikolog sangat diharapkan untuk bisa membantu penyintas kembali bangkit dan beraktifitas normal. Penyintas yang paling diprioritaskan adalah anak-anak. Psikolog yang ingin membantu dalam memulihkan kesehatan mental harus menyadari kompetensi dan keterbatasan yang mereka miliki. Psikolog harus memahami itervensi yang tepat bagi parapenyintas. Intervensi harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan para penyintas pada fase yang berbeda berdasarkan kondisi dan tingkat keparahan yang berbeda pula.
Kegiatan pencegahan dan mitigasi juga sangat penting untuk mengurangi masalah kesehatan mental yang disebabkan bencana. Menurut ARC (2005), penting untuk dicatat bahwa sebagian besar korban tidak menunjukkan reaksi trauma berat . Bahkan, Teicher (2002) menunjukkan bahwa manusia telah mampu mengatasi stres yang menimpa dirinya. Penyintas yang lebih membutuhkan intervensi adalah anak-anak, karena itu akan menjadi modal dasarnya di masa mendatang. Anak-anak yang sejak kecil sudah diajari mengatasi trauma, maka ia akan menjadi lebih kuat dan adaptif, bukan hanya sekarang tetapi juga kelak ketika ia dewasa.
Dari pemamparan yang telah disebutkan, maka ada banyak hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran. Sudah selayaknya kita harus banyak belajar dari negara-negara luar yang telah mampu menerapkan satu system yang tertata untuk menanggulangi dampak bencana. Mereka sudah diajarkan tentang cara penanggulangan bencana dengan sigap, sehingga ketika ada bencana bantuan bisa segera datang dan penyintas pun bisa lebih cepat ditangani. Hal ini tentu akan sangat berguna bagi penanggulangan dampak yang lebih berat yang ditimbulkan oleh bencana seperti stress, depresi, atau PTSD.
Anak –anak juga selalu menjadi prioritas utama bagi para psikolog dalam menangani masalah yang disebabkan oleh bencana alam. Banyak cara yang sudah dikembangkan untuk menanggulangi semua itu. Diantaranya adalah dengan mengembangkan program yang komprehensif yang mengaitkan antara aspek kognitif, behavioral, dan juga emosional untuk menanggulangi dampak bencana yang muncul pada anak-anak.
Selengkapnya...

Sejarah Perkembangan Ilmu
15.38 | Author: alinaksi ahmad


A. Zaman Yunani
Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir mitosentris (pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi). Gempa bumi tidak dianggap fenomena alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun, ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM) mempertanyakan “Apa sebenarnya asal usul alam semesta ini?” Ia mengatakan asal alam adalah air karena air unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda dapat, seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air. Sedangkan Heraklitos mempunyai kesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Api adalah unsur yang paling asasi dalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan di sisi lain dapat melunakkan es. Artinya, api adalah aktor pengubah dalam alam ini, sehingga api pantas dianggap sebagai simbol perubahan itu sendiri.
Pythagoras (580-500 SM) berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Unsur bilangan merupakan juga unsur yang terdapat dalam segala sesuatu. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Menurut Abu Al Hasan Al Amiri, seorang filosof muslim Phitagoras belajar geometri dan matematika dari orang-orang mesir (Rowston, dalam Kartanegara, 2003).
Filosof alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, sehingga timbullah kaum “sofis”. Kaum sofis ini memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa ini memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM). Ia menyatakan bahwa “manusia” adalah ukuran kebenaran.
Ilmu juga mendapat ruang yang sangat kondusif dalam pemikiran kaum sofis karena mereka memberi ruang untuk berspekulasi dan sekaligus merelatifkan teori ilmu, sehingga muncul sintesa baru. Socrates, Plato, dan Aristoteles menolak relativisme kaum sofis. Menurut mereka, ada kebenaran obyektif yang bergantung kepada manusia.
Periode setelah Socrates disebut dengan zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat menonjol adalah Plato (429-347 SM), yang sekaligus murid Socrates. Menurutnya, kebenaran umum itu ada bukan dibuat-buat bahkan sudah ada di alam idea. Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, berhasil menemukan pemecahan persoalanpersoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme terdiri dari tiga premis:
- Semua manusia akan mati (premis mayor).
- Socrates seorang manusia (premis minor).
- Socrates akan mati (konklusi).
Aristoteles dianggap bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.

B. Zaman Islam
Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual, tetapi juga membuktikan kecintaan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan sikap hormat mereka kepada ilmuwan, tanpa memandang agama mereka. Periode antara 750 M dan 1100 M adalah abad masa keemasan dunia Islam. Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar pada mazhab-mazhab Islam, khususnya mazhab Peripatetik.
Al Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berpikir logis (logika) kepada dunia Islam. Berbagai karangan Aristoteles seperti Categories, Hermeneutics, First, dan Second Analysis telah diterjemahkan Al Farabi ke dalam bahasa Arab. Al Farabi telah membicarakan berbagai sistem logika dan cara berpikir deduktif maupun induktif. Di samping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar pertama ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Phytagoras. Oleh karena jasanya ini, maka Al Farabi
diberi gelar Guru Kedua, sedang gelar Guru Pertama diberikan kepada Aristoteles. Kontribusi lain dari Al Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah usahanya mengklasifikasi ilmu pengetahuan. Al Farabi telah memberikan defenisi dan batasan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang pada zamannya. Al Farabi mengklasifikasi ilmu ke dalam tujuh cabang yaitu:
logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik, dan ilmu fiqih (hukum).
Ilmu percakapan dibagi lagi ke dalam tujuh bagian yaitu: bahasa, gramatika, sintaksis, syair, menulis, dan membaca. Bahasa dalam ilmu percakapan dibagi dalam: ilmu kalimat mufrad, preposisi, aturan penulisan yang benar, aturan membaca dengan benar, dan aturan mengenai syair yang baik. Ilmu logika dibagi dalam 8 bagian, dimulai dengan kategori dan diakhiri dengan syair (puisi). Matematika dibagi dalam tujuh bagian. Metafisika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai pengetahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai filsafat ilmu. Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika dan politika. Perkataan politieia yang berasal dari bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi madani, yang berarti sipil dan berhubungan dengan tata cara mengurus suatu kota. Kata ini kemudian sangat populer digunakan untuk menyepadankan istilah masyarakat sipil menjadi masyarakat madani. Ilmu agama dibagi dalam ilmu fiqih dan imu ketuhanan/kalam (teologi). Buku Al Farabi mengenai pembagian ilmu ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin untuk konsumsi bangsa Eropa dengan judul De Divisione Philosophae. Karya lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul De Scientiis atau De Ortu Scientearum.
Buku ini mengulas berbagai jenis ilmu seperti ilmu kimia, optik, dan geologi. Al Farabi (w.950) terkenal dengan doktrin wahda al wujud membagi hierarki wujud yaitu (1) dipuncak hierarki wujud adalah Tuhan yang merupakan sebab bagi keberadaan yang lain, (2) para malaikat di bawahnya yang merupakan sebab bagi keberadaan yang lain, (3) benda21 benda langit (angkasa), (4) benda-benda bumi. Al Farabi memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokohtokoh filsafat harus bersepakat di antara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran.
Filosof lain yang terkenal adalah Ibnu Sina dikenal di Barat dengan sebutan Avicienna. Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair. Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak ditulis dalam bentuk syair. Bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona di Toledo. Buku ini kemudian menjadi buku teks (text book) dalam ilmu kedokteran yang diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropa, seperti Universitas Louvain dan Montpelier. Dalam kitab Canon, Ibnu Sina telah menekankan betapa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat suatu obat. Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian. Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.
Kitab lainnya berjudul Al Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (di Barat dikenal dengan nama Avendauth Ben Daud) di Toledo. Oleh karena Al Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan oleh Ibnu Daud terbatas pada pendahuluan ilmu logika, fisika, dan De Anima. Ibnu Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoretis dan bagian yang bersifat praktis. Bagian yang bersifat teoretis meliputi: matematika, fisika, dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi: politik dan etika. Ibnu Sina, mengatakan alam pada dasarnya adalah potensi (mumkin al wujud) dan tidak mungkin bisa mengadakan dirinya sendiri tanpa adanya Tuhan. Ibnu Sina mengelompokkan ilmu dalam tiga macam yakni (1) obyek-obyek yang secara niscaya tidak berkaitan dengan materi dan gerak (metafisik), (2) obyek-obyek yang senantiasa berkaitan dengan materi dan gerak (fisika), (3) obyek-obyek yang pada dirinya immaterial tetapi kadang melakukan kontak dengan materi dan gerak (matematika).
Ibn Khaldun dalam kitabnya Al Muqaddimah membagi metafisika dalam lima bagian. Bagian pertama berbicara tentang hakikat wujud (ontologi). Dari sini muncul dua aliran besar yakni eksistensialis (tokoh yang terkemuka adalah Ibnu Sina dan Mhulla Shadra) dan esensialis (tokoh yang terkemuka adalah Syaikh Al Israq, Suhrawardi). Berikutnya Ibn Khaldun membagi ilmu matematika ke dalam empat subdivisi yakni (1) geometri; trigonometrik dan kerucut, surveying tanah, dan optik. Sarjana muslim terutama Ibn Haitsam telah banyak mempengaruhi sarjana barat termasuk Roger Bacon, Vitello dan Kepler (2)Aritmetika; seni berhitung/hisab, aljabar, aritmatika bisnis dan faraid (hukum waris), (3) musik, (4) astronomi. Dalam bidang ilmu mineral, dikenal karya Al Biruni yang berjudul Al Jawahir (batu-batu permata), selain itu pada abad ke-11 Al Biruni dikenal sebagai The master of observation di bidang geologi dan geografi karena Al Biruni berusaha mengukur keliling bumi melalui metode eksperimen dengan menggabungkan metode observasi dan teori trigonometri. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa keliling bumi adalah 24.778,5 mil dengan diameter 7.878 mil. Tentu saja ini merupakan
penemuan luar biasa untuk masa itu, dengan ukuran modern saja yaitu 24.585 mil (selisih ± 139 mil) dengan diameter 7.902 mil. Dalam bidang ilmu farmakologi dan medis dikenal karya Ibnu
Sina yakni Al Qanun fi al Thibb dan Al Hawi oleh Abu Bakr Al Razi, bidang nutrisi dikenal karya Ibn Bathar yakni Al Jami Li Mufradat Al Adawiyyah wa Al Aghdziyah, di bidang zoologi dikenal karya Al Jahizh yang berjudul Al Hayawan dan Hayat Al Hayawan oleh Al Damiri. Di
Andalusia terkenal seorang ahli bedah muslim, Ibn Zahrawi yang telah mencitakan ratusan alat bedah yang sudah sangat maju untuk ukuran zamannya.
Filosof lainnya adalah Al Kindi, yang dianggap sebagai filosof Arab pertama yang mempelajari filsafat. Ibnu Al Nadhim mendudukkan Al Kindi sebagai salah satu orang termasyhur dalam filsafat alam (natural philosophy). Buku-buku Al-Kindi membahas mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti geometri, aritmatika, astronomi, musik, logika dan filsafat. Ibnu Abi Usai’bia menganggap Al-Kindi sebagai penerjemah terbaik kitab-kitab ilmu kedokteran dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Di samping sebagai penerjemah, Al Kindi menulis juga berbagai makalah. Ibnu Al Nadhim memperkirakan ada 200 judul makalah yang ditulis Al Kindi dan sebagian di antaranya tidak dapat dijumpai lagi, karena raib entah kemana. Nama Al Kindi sangat masyhur di Eropa pada abad pertengahan. Bukunya yang telah disalin ke dalam bahasa Latin di Eropa berjudul De Aspectibus berisi uraian tentang geometri dan ilmu optik, mengacu pada pendapat Euclides, Heron, dan Ptolemeus. Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisannya adalag filosof kenamaan Roger Bacon. Filosof lainnya adalah Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol, meskipun seorang dokter dan telah mengarang buku ilmu kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof.
Ibnu Rushd telah menyusun 3 komentar mengenai Aristoteles, yaitu: komentar besar, komentar menengah, dan komentar kecil. Ketiga komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa: Arab, Latin, dan Yahudi. Dalam komentar besar, Ibnu Rushd menuliskan setiap kata dalam Stagirite karya Aristoteles dengan bahasa Arab dan memberikan komentar pada bagian akhir. Dalam komentar menengah ia masih menyebut-nyebut Aritoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat yang diulas murni pandangan Ibnu Rushd. Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemukapemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al Kindi dalam bukunya Falsafah El Ula (First Philosophy). Al Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai (Haeruddin, 2003).



C. Kemajuan Ilmu Zaman Renaisans dan Modern
Pada zaman modern paham-paham yang muncul dalam garis besarnya adalah rasionalisme, idealisme, dan empirisme. Paham rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Paham idealisme mengajarkan bahwa hakikat fisik adalah jiwa, spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan jalan untuk mempelajari paham idealisme zaman modern. Paham empirisme dinyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi Gereja Katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya Humanisme. Zaman ini juga merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian, dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa, Leonardo da Vinci.
Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) dan ditemukannya benua baru (1492 M) oleh Columbus memberikan dorongan lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastra di Inggris, Perancis dan Spanyol diwakili Shakespeare, Spencer, Rabelais, dan Ronsard. Pada masa itu, seni musik juga mengalami perkembangan. Adanya penemuan para ahli perbintangan seperti Copernicus dan Galileo menjadi dasar bagi munculnya astronomi modern yang merupakan titik balik dalam pemikiran ilmu dan filsafat. Bacon adalah pemikir yang seolah-olah meloncat keluar dari zamannya dengan melihat perintis filsafat ilmu. Ungkapan Bacon yang terkenal adalah Knowledge is Power (Pengetahuan adalah kekuasaan). Ada tiga contoh yang dapat membuktikan pernyataan ini, yaitu: mesin menghasilkan kemenangan dan perang modern, kompas memungkinkan manusia mengarungi lautan, percetakan yang mempercepat penyebaran ilmu.
Lahirnya Teori Gravitasi, perhitungan Calculus dan Optika merupakan karya besar Newton. Teori Gravitasi Newton dimulai ketika muncul persangkaan penyebab planet tidak mengikuti pergerakan lintas lurus, apakah matahari yang menarik bumi atau antara bumi dan matahari ada gaya saling tarik menarik. Teori Gravitasi memberikan keterangan, mengapa planet tidak bergerak lurus, sekalipun kelihatannya tidak ada pengaruh yang memaksa planet harus mengikuti lintasan elips. Sebenarnya, pengaruhnya ada, tetapi tidak dapat dilihat dengan mata dan pengaruh itu adalah Gravitasi, yaitu kekuatan yang selalu akan timbul jika ada dua benda yang saling berdekatan.
Perkembangan ilmu pada abad ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi, ekonomi, kalkulus, dan statistika. Di abad ke-9 lahir semisal farmakologi, geofisika, geormopologi, palaentologi, arkeologi, dan sosiologi. Abad ke-20 mengenal ilmu teori informasi, logika matematika, mekanika kwantum, fisika nuklir, kimia nuklir, radiobiologi, oceanografi, antropologi budaya, psikologi, dan sebagainya.

D. China, India, dan Jepang
Peradaban India yang pada awal telah mencapai teknologi tingkat tinggi. Kontak Eropa dengan peradaban India sebagian besar melalui sumber berbahasa Arab. Jelas terlihat matematika India dengan sistem bilangan dan perhitungannya yang telah mempengaruhi aljabar Arab dan melengkapi angka utama Arab. Tetapi ciri khasnya adalah pemikiran dengan kesadaran yang tinggi.
Peradaban Cina, hingga zaman renaisans peradaban Cina jauh lebih maju dibanding Barat. Menurut Francis Bacon, Tranformasi masyarakat Eropa banyak berasal dari Cina seperti kompas magnetik, bubuk mesiu, dan mesin cetak. Namun Eropa tidak pernah menyadari hutang budinya kepada Cina. Kegagalan Cina dalam membuat perkembangan ilmu dan teknologi adalah filsafat yang ada lebih berlaku praktis ketimbang prinsip-prinsip abstrak, filsafat yang ada didasarkan analogi-analogi harmonis dan organis serta pedagang sebagai kelas yang tidak dapat dipercaya, sehingga ciri renaisans yang terjadi di Eropa tidak terjadi di Cina.
Peradaban Jepang selama beberapa abad terimbas dari kultur Cina. Pada awal abad ke-17 memutuskan untuk menutup pintu dari pengaruh-pengaruh yang dianggap membahayakan. Awal abad ke-19 memutuskan berasimilasi ke bangsa luar dan melaksanakan dengan sungguh. Saat ini satu sisi Jepang hidup dengan teknologi yang tinggi akan tetapi tetap mengikuti tradisi sosial yang kuno seperti bangsa Cina.

Wallahu a’lam..
Selengkapnya...